FAJARNUSA - Hasil investigasi media Internasional Washington Post menulis bahwa tembakan gas air mata kepolisian Indonesialah yang memicu kerusuhan di Stadion yang kemudian menewaskan ratusan orang di Kanjuruhan Malang, Jawa Timur.
"Rentetan tembakan bertubi-tubi amunisi gas air mata yang ditembakkan oleh polisi Indonesia ke penggemar sepak bola memicu kecelakaan fatal di Malang akhir pekan lalu yang menewaskan sedikitnya 130 orang, menurut investigasi Washington Post" tulis Washinton Post dalam leadnya.
Dalam liputan investigasi Washington Post berjudul 'How police action in Indonesia led to a deadly crush in the soccer stadium' yang terbit berkat kolaborasi apik antara kontributor Adi Rinaldi (Malang-Indonesia), Winda (Malaysia), Rebecca Tan (Kepala Biro Washington Post Asia Tenggara-Washington DC),Imogen Piper (Reporter Motion Graphics-London), Sarah Cahlan (Forensik Visual- Wahington DC),Joyce Sohyun Lee (Reporter Video Forensik Visual-Washington DC).
Terungkap fakta bagaimana pihak kepolisian Indonesia tampak brutal dan gagap dalam mengamankan situasi dilapangan usai pertandingan Arema vs Persebaya yang berujung kerusuhan dan kematian masal Aremania di Stadion Kanjuruhan.
Artikel Washington Post yang terbit pada Kamis, 6 oktober 2022 itu juga menyebutkan bahwa polisi telah menembakan 40 lebih amunisi gas air mata dan Flas bang ke arah penonton di stadion Kanjuruhan.
Washington Post mencatat, dalam waktu 10 menit polisi menembakan lebih dari 40 amunisi gas air mata, Flash bang dan flare. ke arah penonton. Hal itu jelas-jelas melanggar protokol internasional mengenai pedoman keamanan untuk pertandingan sepak bola.
Tindakan Polisi tersebut sontak membuat Aremania langsung membanjiri pintu keluar stadion.
"Penembakan sedikitnya 40 amunisi ke arah kerumunan dalam rentang waktu 10 menit, yang melanggar protokol nasional dan pedoman keamanan internasional untuk pertandingan sepak bola, membuat penggemar mengalir ke pintu keluar. Amunisi termasuk gas air mata, flash bang dan flare" ungkap Washington Post.
Selama proses investigasi yang dilakukan tim Washinton Post, mereka juga mengungkapkan bahwa Polri tidak menanggapi permintaan komentar mereka berkali-kali.
Washington Post juga melaporkan bahwa hasil investigasi mereka berdasarkan pemeriksaan terhadap lebih dari 100 video dan foto kejadian, wawancara dengan 11 saksi dan analisis oleh pakar pengendalian massa dan pembela hak-hak sipil.
Baca Juga: Tragedi Kanjuruhan Tewaskan Ratusan Orang, Ternyata ini Intruksi Kapolres Malang Sebelum Kerusuhan
Hasilnya, terungkap fakta bahwa penggunaan gas air mata oleh polisi dalam merespon Aremania yang memasuki lapangan merupakan kesalahan fatal.
Artikel Terkait
Update Tragedi Kanjuruhan, Kronologi Versi Supporter: Kami Ditembaki Gas Air Mata dan Pintu Keluar Macet
Bikin Mata Polisi Pedas, Artikel New York Times Sebut Polisi Indonesia Korup & Brutal Dalam Tragedi Kanjuruhan
New York Times Sebut Polisi Indonesia Lebih Kejam Usai Reformasi 98' Tapi Minim Tanggung Jawab Sebab Impunitas
New York Times Sebut Anggaran Polri Membengkak Tapi Minim Akuntabilitas Jutaan Dolar Habis Untuk Gas Air Mata
Aremania Ancam Turun Ke Jalan Jika Dalam 7 Hari Polisi Gagal Ungkap Dalang Tragedi Berdarah Kanjuruhan
Nah Kan, Ade Armando Kena Tegur Biar Gak Babak Belur Lagi Gegara Tuduh Aremania
Suporter Bayern Munchen Sebut Polisi Pebunuh
Tragedi Kanjuruhan Tewaskan Ratusan Orang, Ternyata ini Intruksi Kapolres Malang Sebelum Kerusuhan
Ketum PSSI Tolak Bertanggung Jawab Tragedi Kanjuruhan, Netizen: Valentino Jebret Lebih Baik Dari Iwan Bule
Komnas HAM Sebut Korban Tewas Tragedi Kanjuruhan Karena Gas Air Mata, Suporter Rayo Valecano: Mereka Dibunuh