FAJARNUSA - Soroti Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan ratusan orang supporter, New York Time mengkritik Kepolisian Republik Indonesia yang sangat berkuasa dan kejam usai reformasi 98' namun minim tanggung jawab karena imunitas.
Hal ini dilaporkan New York Times dalam artikelnya berjudul 'Deadly Soccer Clash in Indonesia Puts Police Tactics, and Impunity, in Spotlight'yang terbit pada 3 Oktober 2022.
Dilansir fajarnusa.com dar New York Times, artikel yang dibuat oleh Sui Lee Wee itu mengungkapan pengalaman ribuan orang Indonesia ketika behadapan dengan Polisi yang kerap menggunakan metode kekerasan dalam menangani massa baik ketika menangani kerusuhan massa maupun demontrasi massa namun minim tanggung jawab dari efek negatif yang disebabkan metode tersebut.
New York Time mencatat beberapa kasus kekerasan dan brutalitas polisi dalam menangani massa di Indonesia.
Diantaranya saat polisi membunuh 10 orang pengunjuk rasa yang menentang pemilihan kembali Presiden Jokowi dodo pada 2019.
"Di ibu kota, Jakarta, polisi menembak dan membunuh 10 orang saat pengunjuk rasa berkampanye menentang pemilihan kembali Presiden Joko Widodo pada 2019" catat New York Times.
Kemudian di tahun 2018 saat Seorang remaja berusia 16 tahun meninggal saat kerusuhan terjadi usai oertandingan Arema Malang di Kanjuruhan.
"Polisi anti huru hara menembakkan gas air mata di Stadion Kanjuruhan di Malang ketika terjadi kekerasan dalam pertandingan yang melibatkan tim tuan rumah, Arema. Seorang anak laki-laki berusia 16 tahun meninggal beberapa hari kemudian. Tidak ada laporan apakah ada penyelidikan atas kematiannya atau bagaimana polisi menangani kerusuhan itu" beber New York Times.
Marakanya aksi kekerasan Polisi dan minimnya tanggung jawab yang menyertainya dinilai pengamat sebagai kegagalan reformasi institusi kepolisian Indonesia.
“Bagi saya, ini benar-benar fungsi dari kegagalan reformasi kepolisian di Indonesia,” kata Jacqui Baker, ekonom politik di Murdoch University di Perth, Australia, yang mempelajari kepolisian di Indonesia.
Selama lebih dari dua dekade, aktivis HAM telah melakukan penyelidikan atas tindak kekerasan polisi Indonesia. Laporan-laporan ini, menurut Baker, sering sampai ke kepala polisi, tetapi tidak banyak atau tidak berpengaruh sama sekali.
Artikel Terkait
Korban Jiwa Usai Laga Persebaya VS Arema Malang Sudah Lebih dari 100 Orang, Korban Diduga Masih Bertambah...
Resmi Liga 1 Dihentikan Selama Sepakan Akibat Kerusuhan Usai Laga Arema vs Persebaya yang Memakan Korban Jiwa
Update Korban Jiwa Tragedi Kanjuruhan, 126 Orang Dilaporkan Meninggal Dunia Usai Laga Arema vs Persebaya
Tragedi Kanjuruhan, Madura United Minta PSSI Bertanggung Jawab dan Semua Pengurusnya Harus Mundur
182 Orang Meninggal Dunia, Tragedi Kanjuruhan Jadi Tragedi Sepakbola Paling Berdarah Terbesar Ke 2 di Dunia
Laporan Media Asing Sebut Gas Air Mata Picu Banyaknya Korban Jiwa di Stadion Kanjuruhan Malang
Komisi III DPR Pertanyakan Pertandingan Digelar Malam Hari, Pangeran: Apakah Ada Tendensi Dengan Judi Online?
Manchester City Hancurkan Manchester United Dengan Skor Telak 6-3, Guardiola Masih Belum Puas, ini Alasannya..
Update Tragedi Kanjuruhan, Kronologi Versi Supporter: Kami Ditembaki Gas Air Mata dan Pintu Keluar Macet
Bikin Mata Polisi Pedas, Artikel New York Times Sebut Polisi Indonesia Korup & Brutal Dalam Tragedi Kanjuruhan