FAJARNUSA - Artikel New York Times yang menyoroti brutalitas penanganan massa dalam tragedi Kanjuruhan yang terbit pada 3 Oktober 2022 berjudul 'Deadly Soccer Clash in Indonesia Puts Police Tactics, and Impunity, in Spotlight' langsung memancing perhatian publik Indonesia.
Artikel New York Times ini ditulis oleh Kepala Biro Asia Tenggara Sui Lee Wee bakal bikin mata Polisi Indonesia pedas membacanya, Sui sendiri adalah seorang jurnalis yang pernah menerima penghargaan Pulitzer pada 2021 untuk kategori pelayanan publik.
Dalam artikel tersebut Sui menulis pengalaman masyarakat Indonesia yang kerap berbenturan dengan pihak kepolisian Indonesia yang Korup dan brutal dalam menggunakan kekerasan untuk menekan massa dan tak pernah bertanggung jawab atas aksi kekerasan tersebut.
Baca Juga: Tragedi Malang, Kapolda Gorontalo Lakukan Sholat Ghoib
"For years, tens of thousands of Indonesians have faced off against a police force that many say is corrupt, uses brute force to suppress crowds and is accountable to no one - Selama bertahun-tahun, puluhan ribu orang Indonesia telah berhadapan dengan kepolisian yang banyak dikatakan korup, menggunakan kekerasan untuk menekan massa dan tidak bertanggung jawab kepada siapa pun" ungkap Sui sebagaimana dikutip fajarnusa.com dari New York Time pada 4 Oktober 2022.
Dalam tulisannya Sui langsung menyoroti metode polisi menggunakan gas air mata yang memicu penyerbuan dan berujung hilannya nyawa lebih dari 127 orang dalam penanganan kerusuhan yang terjadi di stadion Kanjuruhan usai laga Arema vs Persebaya berakhir 2:3.
Hal tersebut menjadikan tragedi Kanjuruhan sebagai satu dari sekian banyak bencana terburuk dalam sejarah bencana olaraga di dunia.
"Without warning, Sprayed tear gas at tens of thousends of spectators crowded in a stadium - Tanpa peringatan, menyemprotkan gas air mata ke puluhan ribu penonton yang memadati sebuah stadion" ungkap Sui.
Sui juga menuliskan bahwa kematian supporter di stadion Kanjuruhan bukan kali ini saja terjadi, sebelumnya di 2018 polisi anti huru hara menembakkan gas air mata di Stadion Kanjuruhan Malang ketika terjadi kerusuhan dalam pertandingan Arema.
Dilaporkan Seorang anak laki-laki berusia 16 tahun meninggal beberapa hari kemudian. Tidak ada laporan apakah ada penyelidikan atas kematiannya atau bagaimana polisi menangani kerusuhan itu.
Baca Juga: Laporan Media Asing Sebut Gas Air Mata Picu Banyaknya Korban Jiwa di Stadion Kanjuruhan Malang
"There were no reports of whether there was an investigation into his death or how the police had handled the riots" beber Sui.***
Artikel Terkait
110 Jiwa Diduga Melayang Akibat Kerusuhan Usai Laga Arema vs Persebaya, Masyarakat Minta Kompetisi Disetop
Korban Jiwa Usai Laga Persebaya VS Arema Malang Sudah Lebih dari 100 Orang, Korban Diduga Masih Bertambah...
Resmi Liga 1 Dihentikan Selama Sepakan Akibat Kerusuhan Usai Laga Arema vs Persebaya yang Memakan Korban Jiwa
Update Korban Jiwa Tragedi Kanjuruhan, 126 Orang Dilaporkan Meninggal Dunia Usai Laga Arema vs Persebaya
Tragedi Kanjuruhan, Madura United Minta PSSI Bertanggung Jawab dan Semua Pengurusnya Harus Mundur
182 Orang Meninggal Dunia, Tragedi Kanjuruhan Jadi Tragedi Sepakbola Paling Berdarah Terbesar Ke 2 di Dunia
Laporan Media Asing Sebut Gas Air Mata Picu Banyaknya Korban Jiwa di Stadion Kanjuruhan Malang
Komisi III DPR Pertanyakan Pertandingan Digelar Malam Hari, Pangeran: Apakah Ada Tendensi Dengan Judi Online?
Manchester City Hancurkan Manchester United Dengan Skor Telak 6-3, Guardiola Masih Belum Puas, ini Alasannya..
Update Tragedi Kanjuruhan, Kronologi Versi Supporter: Kami Ditembaki Gas Air Mata dan Pintu Keluar Macet