Bikin Mata Polisi Pedas, Artikel New York Times Sebut Polisi Indonesia Korup & Brutal Dalam Tragedi Kanjuruhan

photo author
Hanung, Fajar Nusa
- Selasa, 4 Oktober 2022 | 11:57 WIB
Tangkapan Layar Laporan New York Time Dalam Tragedi Kanjuruhan (Sui-Lee Wee)
Tangkapan Layar Laporan New York Time Dalam Tragedi Kanjuruhan (Sui-Lee Wee)

FAJARNUSA - Artikel New York Times yang menyoroti brutalitas penanganan massa dalam tragedi Kanjuruhan yang terbit pada 3 Oktober 2022 berjudul 'Deadly Soccer Clash in Indonesia Puts Police Tactics, and Impunity, in Spotlight' langsung memancing perhatian publik Indonesia.

Artikel New York Times ini ditulis oleh Kepala Biro Asia Tenggara Sui Lee Wee bakal bikin mata Polisi Indonesia pedas membacanya, Sui sendiri adalah seorang jurnalis yang pernah menerima penghargaan Pulitzer pada 2021 untuk kategori pelayanan publik.

Dalam artikel tersebut Sui menulis pengalaman masyarakat Indonesia yang kerap berbenturan dengan pihak kepolisian Indonesia yang Korup dan brutal dalam menggunakan kekerasan untuk menekan massa dan tak pernah bertanggung jawab atas aksi kekerasan tersebut.

Baca Juga: Tragedi Malang, Kapolda Gorontalo Lakukan Sholat Ghoib

"For years, tens of thousands of Indonesians have faced off against a police force that many say is corrupt, uses brute force to suppress crowds and is accountable to no one - Selama bertahun-tahun, puluhan ribu orang Indonesia telah berhadapan dengan kepolisian yang banyak dikatakan korup, menggunakan kekerasan untuk menekan massa dan tidak bertanggung jawab kepada siapa pun" ungkap Sui sebagaimana dikutip fajarnusa.com dari New York Time pada 4 Oktober 2022.

Dalam tulisannya Sui langsung menyoroti metode polisi menggunakan gas air mata yang memicu penyerbuan dan berujung hilannya nyawa lebih dari 127 orang dalam penanganan kerusuhan yang terjadi di stadion Kanjuruhan usai laga Arema vs Persebaya berakhir 2:3.

Hal tersebut menjadikan tragedi Kanjuruhan sebagai satu dari sekian banyak bencana terburuk dalam sejarah bencana olaraga di dunia.

Baca Juga: Update Tragedi Kanjuruhan, Kronologi Versi Supporter: Kami Ditembaki Gas Air Mata dan Pintu Keluar Macet

"Without warning, Sprayed tear gas at tens of thousends of spectators crowded in a stadium - Tanpa peringatan, menyemprotkan gas air mata ke puluhan ribu penonton yang memadati sebuah stadion" ungkap Sui.

Sui juga menuliskan bahwa kematian supporter di stadion Kanjuruhan bukan kali ini saja terjadi, sebelumnya di 2018 polisi anti huru hara menembakkan gas air mata di Stadion Kanjuruhan Malang ketika terjadi kerusuhan dalam pertandingan Arema.

Dilaporkan Seorang anak laki-laki berusia 16 tahun meninggal beberapa hari kemudian. Tidak ada laporan apakah ada penyelidikan atas kematiannya atau bagaimana polisi menangani kerusuhan itu.

Baca Juga: Laporan Media Asing Sebut Gas Air Mata Picu Banyaknya Korban Jiwa di Stadion Kanjuruhan Malang

"There were no reports of whether there was an investigation into his death or how the police had handled the riots" beber Sui.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Hanung

Sumber: New York Times

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Grand Final Bupati Cup, Kuningan Hadapi Luragung

Kamis, 28 Agustus 2025 | 11:55 WIB

Kuningan dan Cilimus Lolos Semi Final Bupati Cup

Minggu, 24 Agustus 2025 | 10:03 WIB
X