FAJARNUSA.COM (JAKARTA) – Keberhasilan strategi diplomasi Presiden Prabowo Subianto dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tensi global mendapat apresiasi luas. Mantan aktivis 98 dari PRD, Kamper, menilai langkah Presiden dalam merespons gencatan senjata Iran-AS menjadi kunci terjaganya harga energi di dalam negeri.
Dalam keterangannya pada Kamis (9/8), Kamper menyebut konsistensi Prabowo dalam mendorong deeskalasi konflik dan menjunjung hukum internasional memberikan dampak instan bagi Indonesia.
Keunggulan Ekonomi RI Dibanding Negara Tetangga
Baca Juga: RSUD NTB Terancam Kolaps? Temuan BPK Ungkap Dugaan Korupsi Miliaran
Kamper menyoroti bahwa harga energi di Indonesia saat ini jauh lebih stabil jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara.
“Kondisi harga energi kita relatif lebih stabil dibandingkan Singapura, Filipina, hingga Thailand. Ini membuktikan bahwa diplomasi damai berdampak langsung pada dompet masyarakat,” ujar Kamper.
Menurutnya, tanpa diplomasi yang kuat, eskalasi di Timur Tengah berisiko mengganggu rantai pasok minyak mentah, pupuk, dan bahan baku industri yang bisa memicu inflasi hebat.
Baca Juga: Musrenbang RKPD 2027, Pemkot Cirebon Akselerasi Pembangunan Berbasis Partisipasi dan Data
Dampak Positif bagi APBN dan Daya Beli
Keberhasilan meredam ketegangan global ini tidak hanya soal politik luar negeri, tetapi juga soal ketahanan dapur masyarakat. Kamper merinci beberapa keuntungan konkret:
- Tekanan APBN Berkurang: Subsidi energi menjadi lebih terkendali.
- Pengendalian Inflasi: Harga barang pokok tetap terjaga karena biaya logistik stabil.
- Kepastian Ekonomi: Investor lebih percaya diri menanamkan modal di Indonesia.
Catatan untuk Masa Depan: Transisi Energi
Meski memuji langkah pemerintah, Kamper mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh terlena. Ia mendorong pemerintah untuk terus memperkuat kedaulatan energi melalui:
- Percepatan Elektrifikasi: Sektor transportasi dan industri harus segera beralih ke listrik.
- Energi Baru Terbarukan (EBT): Mengurangi ketergantungan pada fosil.
- Cadangan Strategis: Optimalisasi peran BUMN untuk menjamin pasokan nasional.
“Ketahanan energi adalah bagian dari kedaulatan. Diplomasi sudah hebat, kini saatnya kebijakan konkret berkelanjutan diperkuat,” tutupnya.
(**)
Artikel Terkait
Pemerintah Bakal Terapkan WFH Usai Lebaran 2026, Imbas Krisis Energi Global dan Konflik Timur Tengah?
Target Pertumbuhan Ekonomi RI 5,5 Persen Optimistis Tercapai, Pengamat: Berkah Lebaran dan Stimulus Jadi Kunci
Sektor Ekonomi Digital Sumbang Rp48,11 Triliun ke Kas Negara, Pajak Kripto dan Fintech Melejit
HUT ke-6 IFG: Strategi Hexana Tri Sasongko Hadapi Volatilitas Global 2026