"Penembakan sedikitnya 40 amunisi ke arah kerumunan dalam rentang waktu 10 menit, yang melanggar protokol nasional dan pedoman keamanan internasional untuk pertandingan sepak bola, membuat penggemar mengalir ke pintu keluar. Amunisi termasuk gas air mata, flash bang dan flare" ungkap Washington Post.
Selama proses investigasi yang dilakukan tim Washinton Post, mereka juga mengungkapkan bahwa Polri tidak menanggapi permintaan komentar mereka berkali-kali.
Baca Juga: Tragedi Kanjuruhan Tewaskan Ratusan Orang, Ternyata ini Intruksi Kapolres Malang Sebelum Kerusuhan
Untuk lebih lengkapnya kamu bisa baca langsung laporan investigasi The Washington Post 'How police action in Indonesia led to a deadly crush in the soccer stadium' yang terbit berkat kolaborasi apik antara kontributor Adi Rinaldi (Malang-Indonesia), Winda (Malaysia), Rebecca Tan (Kepala Biro Washington Post Asia Tenggara-Washington DC),Imogen Piper (Reporter Motion Graphics-London), Sarah Cahlan (Forensik Visual- Wahington DC),Joyce Sohyun Lee (Reporter Video Forensik Visual-Washington DC) disini.***
Artikel Terkait
Bikin Mata Polisi Pedas, Artikel New York Times Sebut Polisi Indonesia Korup & Brutal Dalam Tragedi Kanjuruhan
New York Times Sebut Polisi Indonesia Lebih Kejam Usai Reformasi 98' Tapi Minim Tanggung Jawab Sebab Impunitas
New York Times Sebut Anggaran Polri Membengkak Tapi Minim Akuntabilitas Jutaan Dolar Habis Untuk Gas Air Mata
Aremania Ancam Turun Ke Jalan Jika Dalam 7 Hari Polisi Gagal Ungkap Dalang Tragedi Berdarah Kanjuruhan
Nah Kan, Ade Armando Kena Tegur Biar Gak Babak Belur Lagi Gegara Tuduh Aremania
Suporter Bayern Munchen Sebut Polisi Pebunuh
Tragedi Kanjuruhan Tewaskan Ratusan Orang, Ternyata ini Intruksi Kapolres Malang Sebelum Kerusuhan
Ketum PSSI Tolak Bertanggung Jawab Tragedi Kanjuruhan, Netizen: Valentino Jebret Lebih Baik Dari Iwan Bule
Komnas HAM Sebut Korban Tewas Tragedi Kanjuruhan Karena Gas Air Mata, Suporter Rayo Valecano: Mereka Dibunuh
Investigasi Washington Post: Tragedi Kanjuruhan Hasil Dari Tembakan Gas Air Mata & Buruknya Manajemen Stadion