"Gas air matalah yang membuat panik dan sebagainya sehingga ada terkonsentrasi di sana di beberapa titik pintu. Ada pintu yang terbuka sempit. Terus ada pintu yang tertutup. Itulah yang membuat banyak jatuh korban," lanjutnya.
Sampai Saat ini Komnas HAM masih terus mendalami dan mengumpulkan berbagai fakta lapangan seputar tragedi Kanjuruhan diantara seputar pengamanan sebelum tragedi Kanjuruhan terjadi.
Anam juga mebeberkan seputar pertanyaan publik mengenai penggunaan gas air mata yang meski sudah dilarang FIFA digunakan didalam stadion tetapi masih dipakai oleh pihak kemanan.
Baca Juga: Nah Kan, Ade Armando Kena Tegur Biar Gak Babak Belur Lagi Gegara Tuduh Aremania
"Kalau ada pertanyaan, kenapa sih gas air mata masuk dalam stadion padahal itu melanggar statuta FIFA misalnya. Itu adanya di perencanaan pengamanan," tanya Anam.
"Termasuk ini korelasinya dengan permintaan jam pertandingan yang diminta sore tapi tetap dilaksanakan malam karena ditolak dan lain sebagainya," sambung dia.
Ia mengatakan ke depan, pihaknya juga akan meminta keterangan kepada kepolisian maupun TNI terkait hal tersebut.
"Kita berharap ada informasi, keterangan yang komprehensif, sehingga kita bisa melihat terangnya peristiwa soal perencanaan pengamanan di sana," kata Anam.
Suporter Rayo Valecano Bentangkan Spanduk "Mereka Dibunuh"
Sementara itu gelombang solidaritas atas tragedi Kanjuruhann terus berdatangan dari berbagai penjuru dunia.
Kali ini Suporter fanatik Rayo Valecano juga turut membentangkan spanduk yang terkesan provokatif mereka menilai korban tragedi Kanjuruhan bukan meninggal karena kecelakaan tapi dibunuh.
Spanduk tersebut terlihat saat laga Rayo Vallecano vs Elche di Campo de Futbol de Vallecas, Selasa 4 oktober 2022.
"No son muertes, son asesinatos," tulis suporter Rayo Vallecano dalam bahasa Spanyol.
yang berarti "Mereka bukan meninggal, tapi dibunuh!" begitu ungkapan dalam spanduk ultras Rayo Vallecano tersebut jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.***
Artikel Terkait
Manchester City Hancurkan Manchester United Dengan Skor Telak 6-3, Guardiola Masih Belum Puas, ini Alasannya..
Update Tragedi Kanjuruhan, Kronologi Versi Supporter: Kami Ditembaki Gas Air Mata dan Pintu Keluar Macet
Bikin Mata Polisi Pedas, Artikel New York Times Sebut Polisi Indonesia Korup & Brutal Dalam Tragedi Kanjuruhan
New York Times Sebut Polisi Indonesia Lebih Kejam Usai Reformasi 98' Tapi Minim Tanggung Jawab Sebab Impunitas
New York Times Sebut Anggaran Polri Membengkak Tapi Minim Akuntabilitas Jutaan Dolar Habis Untuk Gas Air Mata
Aremania Ancam Turun Ke Jalan Jika Dalam 7 Hari Polisi Gagal Ungkap Dalang Tragedi Berdarah Kanjuruhan
Nah Kan, Ade Armando Kena Tegur Biar Gak Babak Belur Lagi Gegara Tuduh Aremania
Suporter Bayern Munchen Sebut Polisi Pebunuh
Tragedi Kanjuruhan Tewaskan Ratusan Orang, Ternyata ini Intruksi Kapolres Malang Sebelum Kerusuhan
Ketum PSSI Tolak Bertanggung Jawab Tragedi Kanjuruhan, Netizen: Valentino Jebret Lebih Baik Dari Iwan Bule