nasional

Gas Air Mata, Senjata Kimia Berbahaya Yang Digunakan Untuk Perang Dunia Pertama

Jumat, 7 Oktober 2022 | 16:35 WIB
Ilustrasi gas air mata. (Dok. Istimewa)

FAJARNUSA - Gas air mata adalah senjata kimia yang berupa gas dan digunakan untuk melumpuhkan, dengan menyebabkan iritasi pada mata dan/atau sistem pernafasan. Gas air mata bisa disimpan dalam bentuk semprotan ataupun granat. Alat ini sangat lazim digunakan oleh kepolisisan untuk melawan kerusuhan dan dalam penangkapan.

Bahan kimia yang sering dipakai pada gas air mata antara lain gas CS (2-klorobenzalmalononitril, C10H5ClN2), CN (kloroasetofenon, C8H7ClO), CR (dibenzoksazepin, C13H9NO), dan semprotan merica (gas OC, oleoresin capsicum).

Paparan terhadap gas air mata menyebabkan dampak jangka pendek dan panjang, termasuk pengembangan penyakit pernapasan, luka dan penyakit mata parah (keratitis, glaukoma, dan katarak), radang kulit, kerusakan pada sistem peredaran darah dan pencernaan, bahkan kematian, khususnya pada kasus dengan paparan tinggi.

Baca Juga: Cerita Tim Mata Najwa MENEMUKAN Dadang, ini Kisahnya

Gas Air Mata Diciptakan dan digunakan pertama kali pada Perang Dunia Pertama (1914-1918).

Dilansir dari History.com, saat Perang Dunia I (1914-1918), Jerman mulai mengembangkan senjata kimia dengan menempatkan tabung gas air mata berukuran kecil pada peluru senjata api.

Tahun 1915 mereka mengembangkannya lagi menggunakan bahan xylyl bromide yang lebih mematikan, dan menggunakannya untuk menyerang pasukan Rusia di Front Timur.

Rusia cukup terbantu dengan kondisi musim dingin saat itu karena sebagian gas beracun membeku. Namun korban jiwa dari peperangan di awal tahun itu mencapai ribuan orang. Jerman menggunakan gas beracun di kesempatan berikutnya pada masa Perang Dunia I, namun tidak berhasil memanfaatkannya secara efektif hingga akhirnya kalah.

Baca Juga: Qatar Akhir Bagi Messi Dan Argentina Bukan Unggulan Piala Dunia 2022

Pada tanggal 22 April 1915, Jerman menggunakan gas beracun di Perang Ypres dan berhasil menghancurkan dua divisi dari Perancis dan Aljazair. Jerman dan musuhnya sama-sama terkejut bagaimana senjata kimia dengan mudah bisa menghancurkan sebuah pasukan.

Setelah Pertempuran Ypres, Perancis dan Inggris mengembangkan senjata kimia mereka sendiri serta masker pelindung dari gas. Jerman kembali lebih maju ke depan, yakni menggunakan gas mustard yang bisa melepuhkan kulit, berdampak buruk pada mata, kulit, paru-paru, dan pembuluh darah.

Ahli strategi militer mendukung penggunaan gas beracun sebagai pilihan serangan dalam berperang, karena menghambat respons musuh dan meminimalisasi korban jiwa. Ternyata masker gas dan pakaian pelindung diri bisa mengurangi efektivitas jenis senjata itu. Senjata kimia tidak efektif digunakan terhadap musuh yang juga memilikinya.

Baca Juga: Disebut Robot, 2 juta Orang Tandatangani Petisi Online Larang Erling Haaland Main di Liga Inggris

Inggris, Perancis, dan Spanyol kemudian menggunakannya untuk kolonialisasi, di mana mereka menghadapi musuh yang belum memiliki senjata kimia. ***

Tags

Terkini