FAJARNUSA.COM (SERANG, BANTEN) – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan bahwa kolaborasi strategis antara pemerintah, ekosistem pers, dan platform digital adalah kunci utama menghadapi tantangan transformasi digital. Dalam peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026, ia menyoroti peran pers sebagai benteng terakhir melawan disinformasi dan dampak negatif kecerdasan artifisial (AI).
"Pemanfaatan AI dalam jurnalistik harus tetap menjadikan kepentingan publik sebagai kompas utama," ujar Meutya Hafid dalam Konvensi Nasional Media Massa di Serang, Banten, Minggu (8/2/2026).
Pers Sebagai Penjaga Demokrasi di Era AI
Baca Juga: Kejar Rp2,8 Triliun, DJP dan Bareskrim Polri Perkuat Kolaborasi Berantas Mafia Pajak
Meutya mengingatkan bahwa di tengah derasnya arus algoritma, pers tidak boleh mengorbankan kepercayaan publik demi kecepatan semata. Menurutnya, kehadiran pers yang kredibel dan independen kini menjadi kebutuhan dasar demokrasi.
Untuk mendukung hal tersebut, Kemkomdigi bersama Dewan Pers telah merumuskan berbagai kebijakan, termasuk Peraturan Dewan Pers Nomor 1 Tahun 2025. Regulasi ini secara tegas mengatur bahwa AI hanyalah alat bantu, sementara jurnalis tetap menjadi pengendali utama demi menjamin akurasi.
Pemerintah juga memperkuat ekosistem media melalui Perpres Nomor 32 Tahun 2024 (Publisher Rights) untuk memastikan platform digital bertanggung jawab atas konten jurnalistik dan melindungi media lokal dari dominasi AI.
Baca Juga: Waspada, Beban Utang APBN 2026 Tembus Rp600 Triliun, Pengamat: Sinyal Lampu Kuning Fiskal
Ruang Digital Aman: PP TUNAS dan UU PDP
Selain isu AI, Menkomdigi memaparkan dua pilar kebijakan untuk menciptakan ruang digital yang sehat:
- PP Nomor 17 Tahun 2025 (PP TUNAS): Fokus pada perlindungan anak dari risiko online seperti perundungan siber dan eksploitasi.
- UU Pelindungan Data Pribadi (UU PDP): Komitmen pemerintah dalam memperkuat standar kepatuhan data di seluruh ekosistem digital.
Baca Juga: Sedan Mercedes Benz Terbakar di Lingkar Nagreg, Pengemudi Tewas Terjebak di Dalam Mobil
Meutya mengajak media untuk mengambil peran sebagai edukator kebijakan dan penguat norma sosial. Ia menekankan pentingnya praktik pemberitaan yang melindungi kelompok rentan dengan tidak mengekspos identitas korban.
Sinergi Menuju Bangsa Berdaulat
Sebagai penutup, Menkomdigi menyatakan kesiapan kementeriannya untuk menjadi mitra strategis bagi seluruh ekosistem pers. Fokusnya adalah memperkuat literasi publik dan mendorong tanggung jawab platform secara proporsional.
Baca Juga: Seskab Teddy Nobar Final Futsal di Malang, Begini Reaksinya Saat Indonesia Kalah dari Iran
“Pers yang sehat melahirkan publik yang cerdas, publik yang cerdas memperkuat ekonomi yang berdaulat, dan ekonomi yang berdaulat membuat bangsa makin kuat,” pungkasnya.
(**)