nasional

Sekolah Hancur Diterjang Banjir, Bocah SD di Aceh Tamiang Pikul Meja Sendiri demi Belajar

Selasa, 3 Februari 2026 | 08:14 WIB
Perjuangan Tanpa Batas: Potret Pendidikan di Desa Sekumur Pascabanjir Bandang (Dok ist)

FAJARNUSA.COM (ACEH TAMIANG) – Dua bulan berlalu sejak banjir bandang dan tanah longsor menghantam Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang pada November 2025, luka akibat bencana tersebut masih membekas nyata. Di tengah puing-puing rumah yang hanyut dan tumpukan kayu gelondongan, sebuah pemandangan menyentuh hati viral di media sosial.

Melalui unggahan akun Instagram @rizkyjafarthalib.official, terlihat seorang siswa sekolah dasar berjalan kaki di bawah terik matahari sambil memikul meja lipat miliknya sendiri. Hal ini dilakukan karena fasilitas sekolahnya hancur total akibat terjangan materi banjir.

"Perjuangan murid yang ke sekolah dalam keadaan sekolahnya hancur, harus bawa bangku sendiri," tulis keterangan dalam video yang dikutip pada Senin (2/2/2026).

Baca Juga: Dilema Board of Peace: Langkah Strategis Prabowo untuk Kemerdekaan Palestina dan Perdamaian Gaza

Guru Jalan Kaki dan Seberangi Sungai

Keterbatasan infrastruktur pascabencana tidak hanya merintangi para siswa, tetapi juga para tenaga pengajar. Akses jalan darat yang sempat terputus total membuat mobilitas warga sangat bergantung pada perahu (boat) milik nelayan.

Seorang guru di Desa Sekumur menceritakan bahwa rutinitasnya kini berubah drastis. Jika sebelumnya ia bisa menggunakan sepeda motor untuk bertugas, kini ia harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki melewati jalur yang baru terbuka dua hari terakhir.

Baca Juga: Pangkormar Pimpin Pelepasan Jenazah Prajurit Marinir Gugur di Longsor Cisarua, 13 Masih Hilang

"Biasanya bawa motor, tapi ini kan jalannya baru kebuka, jadi jalan kaki sampai mau nyeberang pakai boat," tuturnya dengan nada tetap tegar.

Desa yang "Lenyap" dan Akses Terisolasi

Desa Sekumur merupakan salah satu titik terparah akibat bencana akhir tahun lalu. Data menunjukkan sekitar 1.232 jiwa dari 276 KK kehilangan tempat tinggal. Jembatan utama penghubung desa hanyut terbawa arus, membuat perjalanan dari Kota Tamiang menuju desa ini memakan waktu hingga 2 jam perjalanan via jalur air.

Baca Juga: TNI AL Gagalkan Penyelundupan Sianida & Miras Ilegal di Perairan Manado, Nilainya Capai Rp 650 Juta

Lumpur yang mengering dan tumpukan kayu raksasa kini menjadi pemandangan sehari-hari warga yang mencoba menata kembali hidup mereka di atas lahan yang sempat "lenyap" tersebut.

Dukungan dan Doa Warganet

Ketangguhan siswa dan guru di Aceh Tamiang ini menuai gelombang simpati di jagat maya. Netizen berharap pemerintah segera melakukan percepatan perbaikan fasilitas publik, terutama sekolah dan jembatan.

Baca Juga: Fokus Musbangkel Harjamukti 2026: Bongkar Bangunan Liar Demi Atasi Banjir Kota Cirebon

"Pemandangan yang bikin nyesek, tapi salut banget sama kemauan belajarnya. Semoga lelahmu jadi lillah," tulis salah satu akun di kolom komentar.

Hingga saat ini, warga Desa Sekumur masih menanti pemulihan infrastruktur permanen agar kegiatan belajar mengajar dan ekonomi desa dapat kembali normal tanpa harus bertaruh nyawa di jalur transportasi yang terbatas. **

Tags

Terkini