Kondisi tersebut diperparah oleh infrastruktur yang tidak ramah hidrolika.
“Bottleneck buatan, bukaan sempit tidak ramah secara hidrolika, begitu alirannya ketahan langsung dampaknya ke warga,” ucapnya.
Influencer itu menambahkan, karakter ini mirip dengan yang dihadapi Swiss.
Baca Juga: KAI Bagikan Kado Spesial di Momen Hari Ibu di Sejumlah Stasiun Wilayah Daop 3 Cirebon
“Strategi efektif mengurangi kayu tadi ketemu di bottleneck ini," sebut Ferry.
"Dan dari beberapa negara yang gue riset, karakter ini paling mirip Swiss dan apa yang mereka lakukan bisa kita adaptasi,” sambungnya.
Adaptasi Metode Swiss dan Jepang
Baca Juga: Momen di Hari Ibu, Polisi Izinkan Anak Peluk Ibunya yang Sedang Ditahan
Dalam postingan yang sama, Ferry mengungkapkan solusi sebenarnya sudah tersedia melalui praktik terbaik internasional.
“Negara macam US, Jepang, swiss menghadapi masalah yang sama waktu banjir bandang dan ini menyebabkan apa yang disebut sebagai logjam,” ujarnya.
Ferry menekankan, langkah awal bukan membuang seluruh kayu, melainkan membersihkan titik krusial.
“Bersihin bottlenecknya, jembatan, tikungan sungai, pertemuan anak sungai ini harus beres dulu buat aliran stabil dan minim jebolan susulan,” sebutnya.
Sabo Dam dan Nilai Ekonomi Kayu