Ia menilai karakter daerah aliran sungai di wilayah tersebut memiliki kemiripan dengan negara-negara yang kerap menghadapi banjir bandang, seperti Swiss dan Jepang.
"Kita bikin simpel, kayu-kayu besar ini disebut driftwood, negara macam US, Jepang, Swiss menghadapi masalah yang sama," terang Ferry.
Lantas, apa saja hal-hal yang disorot oleh Ferry Irwandi ihwal bencana besar yang melanda Sumatera? Berikut ulasannya.
Baca Juga: Dorong Agroforestri, BPVP Bandung Barat Tanam Puluhan Ribu Pohon Kopi
Kayu sebagai Faktor Penghancur Infrastruktur
Ferry menjelaskan, batang kayu besar yang terbawa arus memiliki dampak signifikan terhadap kekuatan banjir.
“Secara hidrodinamika, batang kayu-kayu besar yang terbawa arus itu meningkatkan drag force (gaya hambat) dan impact load (beban benturan) yang menciptakan beban dan tekanan tambahan," jelasnya.
Baca Juga: Tambang di Gunung Tumpang Pitu Kembali Bergolak, Warga Tolak PT BSI di Petak 56
"Terutama di titik-titik sempit seperti jembatan dan tikungan sungai,” tambah Ferry.
Menurutnya, tekanan tambahan inilah yang membuat banyak jembatan runtuh meski secara struktur masih relatif kuat.
Ferry menilai, kayu berubah menjadi semacam palu raksasa yang menghantam bangunan secara berulang.
Baca Juga: BSMSS di Kota Cirebon, Bukti Nyata Pengabdian TNI Kepada Masyarakat
Bottleneck Sungai Memperparah Banjir
Berdasarkan pengamatan dari ratusan citra udara, Ferry menyebut banyak sungai di Sumatera memiliki hulu curam dengan material banjir campuran.