FAJARNUSA - Empat hari melambungnya harga BBM terus diiringi dengan sejumlah demosntrasi. Di sejumlah daerah, aksi penolakan kenaikan BBM berlangsung ricuh.
Di Aceh misalnya, massa mahasiswa yang menolak kenaikan bbm subsidi terpaksa harus dipukul mundur oleh aparat kepolisian.
Kericuhan itu terjadi akibat massa mahasiswa dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh tidak diizinkan masuk ke dalam Gedung DPR Aceh.
Aksi saling dorong antara mahasiswa dan kepolisian di depan gedung wakil rakyat akhirnya tidak terhindarkan lagi hingga terjadi bentrokan.
Mahasiswa menghujani kepolisian dengan botol air mineral, dan langsung dibalas dengan tembakan gas air mata yang membuat kocar-kacir barisan mahasiswa.
Mahasiswa yang kecewa karena dilarang masuk ke dalam gedung wakil rakyat Aceh terus melakukan perlawanan dengan membakar papan bunga hingga merusak mobil polisi yang terparkir di sekitar titik aksi.
Kemudian aksi mahasiswa di Makassar, Sumatera Selatan, juga mengalami keributan dengan aparat kepolisian.
Keributan itu diawali saat massa mahasiswa membakar ban bekas dan berupaya menahan sebuah truk yang melintas dan akan dijadikan sebagai mimbar orasinya, sayangnya dilarang oleh kepolisian.
Penghadangan itu dilakukan kepolisian untuk meminimalisir kemacetan yang terjadi di jalan Urip Sumohardjo, Panakkukang, Sumatera Selatan.
Tidak terima hadangan kepolisian, akhirnya mahasiswa marah dan terjadi bentrokan. Mobil truk yang ingin dibajak mahasiswa pun mengalami kerusakan.
Dua mahasiswi yang ada dalam barisan mahasiswa pun pingsan akibat menghirup asap ban bekas yang dibakar.
Ketua BEM Stiem Wira Bhakti mengatakan aksi mahasiswa itu menuntut agar Pemerintah membatalkan kenaikan bbm subsidi yang dilakukan pada 3 September 2022.
"Kami ingin pemerintah membuat kebijakan untuk menarik kembali harga BBM yang telah dinaikkan," kata Syafruddin.[]