FAJARNUSA.COM - Kebangkitan PT PAL Indonesia dari kondisi krisis menuju perusahaan strategis berdaya saing global dinilai menjadi momentum penting bagi penguatan sektor kemaritiman dan kemandirian nasional.
Transformasi ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kinerja perusahaan, tetapi juga membuka peluang pengelolaan sumber daya laut yang lebih produktif, berkelanjutan, serta berbasis teknologi dan inovasi.
Keberhasilan PT PAL dipandang sebagai sinyal positif kebangkitan industri maritim nasional, yang berperan strategis dalam mendukung pertahanan negara, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.
Baca Juga: Saling Lempar, Upah Pekerja Proyek DAK SMAN 1 Dukupuntang Belum Dibayarkan
Dua produk terbarunya, Kapal Selam Otonom Tempur (KSOT) dan Kapal Frigate Merah Putih – KRI Balaputradewa‑322 (BPD), menjadi bukti nyata kemampuan industri pertahanan nasional menciptakan alutsista modern sekaligus memperkuat kedaulatan laut.
KSOT, kapal selam tanpa awak yang baru saja melakukan uji tembak torpedo perdana di perairan Surabaya pada 30 Oktober 2025, menandai lompatan besar teknologi pertahanan laut.
Dirancang untuk operasi tempur otonom dan pengintaian bawah laut, KSOT menunjukkan kemampuan Indonesia dalam menciptakan alutsista modern yang inovatif.
Baca Juga: Fakta di Balik Bencana Banjir yang Hampir Capai Atap Rumah Warga di Cilegon
Sementara itu, Kapal Frigate Merah Putih KRI Balaputradewa‑322, sebagai frigate pertama dari dua unit pesanan Kementerian Pertahanan RI, memperkuat armada TNI AL.
Kapal ini adalah platform tempur multirole yang tidak hanya menunjukkan kemajuan teknologi nasional, tetapi juga kapasitas industri pertahanan Indonesia membangun kekuatan laut secara mandiri.
Dampaknya tidak terbatas pada capaian korporasi, tetapi turut memperkuat fondasi pengelolaan potensi kelautan nasional secara modern dan terintegrasi.
Akademisi dan pakar manajemen sumber daya manusia, Prof. Achmad Tjachja Nugraha, menilai transformasi PT PAL menunjukkan pentingnya kepemimpinan strategis, tata kelola organisasi yang sehat, serta penguatan kualitas SDM dalam mengangkat BUMN strategis dari ambang krisis menjadi institusi berdaya saing global.
“Keberhasilan PT PAL tidak hanya diukur dari produksi kapal atau kinerja keuangan, tetapi juga dari keberhasilan membangun SDM unggul dan melakukan reformasi struktural,” kata Prof. Achmad, Jumat (2/1/2026). Di Bandung.
Menurut Guru Besar Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, capaian itu menegaskan kuatnya fondasi industri maritim nasional, tercermin dari peningkatan pendapatan dan backlog kontrak bernilai besar.