"Saya melihat sendiri bagaimana bantuan dari BNPB itu diturunkan dari atas, pakai parasut, dan di bawah, TNI AU mengumpulkan bantuan itu," tuturnya.
Selain itu, Sherly menyoroti tentang perlunya komando yang terpusat agar distribusi bantuan bisa segera sampai ke tangan para korban.
"Jadi, kondisinya benar semua pihak sudah berupaya, tapi satu yang kita butuhkan adalah komando," terangnya.
Baca Juga: Gus Yazid Ditangkap Kejagung di Kediamannya Atas Dugaan TPPU Aset Tanah Negara Kabupaten Cilacap
Ceritakan Akses Terjal di Lokasi Bencana
Sherly menjelaskan, di lokasi bencana, para relawan berupaya menyalurkan bantuan ke korban, namun masih terdapat sistem yang masih tumpang tindih.
"Artinya, bayangkan bantuan itu sudah masuk, tapi data ini harus diarahkan ke mana, itu saling tumpang tindih," jelasnya.
Baca Juga: Terjerat Dugaan Suap BAZNAS, Kejagung Tahan Mantan Kajari Enrekang
Aktivis kemanusian itu menyebut, masih terdapat posko bantuan yang sulit dijangkau para pengungsi bencana di Sumatera.
"Terkait titik-titik posko, umumnya berada di rumah-rumah bupati, kalau hari ini mungkin sudah ada posko-posko tambahan," sebut Sherly.
"Relawan harus datang dahulu ke sejumlah titik, kemudian kembali ke lokasi (bencana), ini yang membuat (bantuan) lambat ke tangan warga," terangnya.
Baca Juga: Kick off Meeting RKPD 2027 Kabupaten Cirebon: Perencanaan Kerja yang Konsisten dan Berdampak
Sherly menyatakan pihaknya sangat menghargai upaya pemerintah dalam berkolaborasi mendistribusikan bantuan kepada para korban sejak masa awal pascabencana.
"Saya sangat hargai kata kolaborasi, kalaupun relawan diajak kolaborasi, kita tahu wilayah yang menjadi kapasitas relawan," jelas Sherly.