FAJARNUSA.COM – Probolinggo baru-baru ini digemparkan oleh maraknya Curanmor dan tak kunjung meredam hingga saat ini. Hal ini tentunya menjadi faktor utama atas keresahan masyarakat Probolinggo.
Masyarakat yang seharusnya melakukan aktivitas dengan tenang kini menjadi gelisah karena harus waspada terhadap praktik pencurian dan pembegalan.
Menurut Fajar Agung Cahyo Pratama, Kader HMI Probolinggo, Faktor utama yang menjadi sebab atas tindakan kriminal ini tentunya berkaitan erat dengan indeks kemiskinan yang terjadi di daerah probolinggo.
Baca Juga: Euforia Juara Persib: Maruarar Sirait Umumkan Bandung akan Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2025
Probolinggo hingga saat ini yang menduduki nomor 4 se-Jawa timur dengan presentase 16,45%, ungkap Fajar.
Hal ini tentunya menjadi tamparan keras kepada Pemerintah Probolinggo atas ketidak becusannya mengelola perekonomian yang aada di probolinggo. Pada akhirnya yang menanggung imbas dari dosa yang dilakukan oleh Pemerintah adalah masyarakat daerah Probolinggo.
Pendidikan menjadi faktor yang tidak kalah penting atas terjadinya fenomena ini. Yang menjadi pelaku atas kejadian ini justru oknum-oknum yang kurang berpendidikan, kata Fajar.
Baca Juga: Bupati Imron Raih Penghargaan di IJTI Cirebon Raya Awards 2025
Pemerintah setempat harusnya sadar dan segera mengambil tindakan resistensi atas praktik curanmor karena, berkaitan tentang pelanggaran KUHP Pasal 362 yang berbunyi “Barangsiapa mengambil sesuatu barang, yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak enam puluh rupiah".
Namun, realitanya Pemerinth setempat seolah tuli dan lumpuh terhadap fenomena curanmor yang kian merajalela. Ironisnya, aparat hanya sibuk melakukn razia knalpot dan plat nomor, tapi tidak serius memburu pelaku curanmor yang nyata di depan mata sangat merugikan masyarakat.
Dimana kehadiran pemerintah saat rakyat kehilangan hak miliknya? Mengapa pelaku bisa berkeliaran bebas, bahkan beraksi berulang kali di tempat yang sama?
Baca Juga: Menyoal Perpanjangan Usia Pensiun ASN, MPR Soroti Kemungkinan Rekrutmen Pegawai Bakal Berkurang
Lambannya penindakan menunjukkan bahwa keamanan rakyat bukan lagi prioritas. Sistem pengawasan lemah, koordinasi kacau, dan penegakan hukum setengah hati.
"Apakah rakyat harus menunggu pejabat kehilangan kendaraanya dulu, baru pemerintah bergerak ?," tanya Fajar.
Cukupkan sudah janji manis yang selalu dilontarkan itu. Rakyat menunggu tindakan nyata bukan sekedar Retorika saja. Pemerintah yang gagal menjamin rasa aman, sejatinya telah mengkhianati mandatnya sendiri.
Baca Juga: Istana Blak-blakan Ungkap Alasan Prabowo Tak Langsung Ganti Pejabat untuk Di-reshuffle
Fenomena ini tidak boleh dibiarkan lebih lama lagi demi keberlangsungan sejahteraan masyarakat khususnya di daerah Probolinggo. Karena, hal ini adalah salah satu yang membuat Probolinggo tidak bisa menjadi daerah yang maju dan mengalami stagnasi.
Pemerintah dan aparat keamanan setempat harus melakukan peningkatan sistem pengawasan digital pasang dan perluas jaringan CCTV yang berkualitas tinggi di titik-titik rawan dan bentuk Satgas anti curanmor di daerah Probolinggo ini yang difokuskan melakukan patroli dan penangkapan.
Pelaku yang terbukti bersalah harus mendapat hukuman yang maksimal dan lakukan publikasi identitas pelaku yang sudah divonis.
Baca Juga: PSG Mendominasi Liga Domestik dalam Satu Dekade Terakhir, FFF Pertimbangkan Reformasi Format Ligue 1
Rakyat tidak menuntut keajaiban, mereka hanya ingin merasa aman di daerahnya sendiri. Maka, buktikan bahwa pemerintah benar-benar hadir, bukan hanya saat kampanye, tapi juga ketika rakyatnya membutuhkan perlindungan.
Rasa aman adalah hak dasar setiap warga negara, jika aparat penegak hukum dan pemangku kebijakan terus abai terhadap maraknya curanmor kepada siapa lagi rakyat harus berharap?
Jangan tunggu rakyat lelah tunggu rakyat lelah percaya karena ketika itu terjadi, hukum dan keadilan hanya akan jadi mitos di tanah air sendiri. (Dani Febri)