Puncak kepedihan sang ibu adalah saat harus melihat anak-anaknya terpapar udara dingin tanpa pelindung yang memadai.
Seluruh pakaian mereka basah kuyup dan tidak ada satu pun baju kering yang tersisa setelah rumah mereka tersapu bencana.
Ia hanya bisa menatap pasrah saat sang anak harus tertidur dalam kondisi yang sangat memprihatinkan di tengah kegelapan.
Baca Juga: KAI Bagikan Kado Spesial di Momen Hari Ibu di Sejumlah Stasiun Wilayah Daop 3 Cirebon
"Karena tidak ada baju ganti, anakku tertidur tapi menggigil," pungkasnya dengan nada bicara yang menyiratkan luka mendalam.
Kisah dari Desa Mardame ini menjadi potret nyata betapa besarnya trauma dan penderitaan yang dirasakan warga di wilayah pelosok yang sulit terjangkau bantuan saat bencana melanda.
Kebutuhan akan pakaian kering, makanan layak, dan pembukaan akses jalan kini menjadi hal yang sangat dinanti oleh para penyintas.***
Artikel Terkait
Kisah Haru di Balik Banjir Aceh: 3 Hari Kelaparan, Warga Tetap Bersyukur Meski Hanya Terima Beras 2 Gelas
Tangis Warga di Desa Pedalaman Aceh Tamiang usai Dilanda Banjir Bandang, Ceritakan Berhari-hari Kesulitan Cari Makan
Fakta di Balik Bencana Sumatera dari Pengamatan Ferry Irwandi: Kita di Sana Menjaga Moral, Tidak Saling Menyalahkan
Penantian Pilu 14 Hari di Balik Timbunan Tanah: Kisah Wanita di Sibolga Akhirnya Temukan Jasad Orang Tua
Momen di Hari Ibu, Polisi Izinkan Anak Peluk Ibunya yang Sedang Ditahan
Ayah di Garoga Tapsel Ini Bagikan Cerita Pilu Anaknya, Terlepas dari Pelukan sang Ibu saat Air dan Kayu Gelondongan Menghantam Rumah