Di sisi lain, Ketua Dewan Pers itu mengingatkan ihwal pengelolaan redaksi, dan strategi keberlanjutan usaha.
“AI bisa menjadi alat bantu, tetapi manusia tetap menjadi pengendali nilai. Tugas media adalah memastikan bahwa teknologi memperkuat jurnalisme, bukan menggantikannya,” tegas Komaruddin.
MSF 2025 juga menghadirkan berbagai sesi diskusi tematik mengenai tantangan keberlanjutan media, mulai dari transformasi digital, tata kelola data, keamanan informasi, hingga inovasi model bisnis.
Baca Juga: Pilu Gubernur Mualem Lihat Bencana Aceh dari Udara: Mata Menangkap Luka di Tanah Rencong
Kolaborasi untuk Ketahanan Media
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Panitia MSF 2025 sekaligus anggota KTP2JB Bidang Pelatihan dan Program Jurnalisme Berkualitas, Frans Surdiasis menyampaikan forum tersebut penting sebagai wadah dialog lintas sektor.
“Ketahanan media tidak bisa diupayakan oleh industri media sendirian. Kita perlu kerja sama erat dengan regulator, platform digital, universitas, dan sektor swasta," ujar Frans.
"MSF 2025 mencoba menghadirkan ruang strategis itu,” sambungnya.
Frans menyebut, tantangan utama media saat ini meliputi kompetisi dengan platform digital, perubahan pola konsumsi informasi, melejitnya produksi konten non-profesional, serta tekanan finansial yang dihadapi media.
Masa Depan Jurnalisme
Salah satu sesi yang menjadi perhatian adalah diskusi mengenai pemanfaatan AI dalam manajemen redaksi dan produksi konten.
Para pembicara menekankan, AI seharusnya diperlakukan sebagai alat peningkat kapasitas jurnalis, bukan sebagai ancaman.
Artikel Terkait
Genjot Tata Kelola Data Terpadu, Evaluasi dan Penghargaan CSD 2025 Jadi Momentum Perbaikan Lintas Sektor
IFG Dorong Pengembangan Industri Asuransi Berbasis Riset dan Customer Centricity melalui Research Dissemination 2025
Indofood UI Ultra 2025 Hadir Lebih Meriah: Neon Glow Run! #We Run the Night, Own the Dawn
DevFest Bandung 2025: Sukses Selenggarakan Acara Teknologi Terbesar Se-Nusantara