Baca Juga: Mark Zuckerberg Umumkan Produk Terbaru AI, Kacamata Pintar dengan Fitur Asisten
"Kita tidak bisa membohongi memang kenyataannya begitu. Jangan sampai pencemaran nama baik, jangan sampai ada anggapan begitu, ada saja yang bilang begitu tadi juga memang begitu ya. Mungkin maksud tercemar itu, karena ada berita sampah ya, kotor begitu kan jadi tercemar, mungkin ke nama baik desa, kalau masalah itu enggak merasa tercemar sih," tambah Dede.
"Kan ada risiko, menuju lebih baik itu pasti ada risiko. Ya risikonya itu. Pasti kita diperlihatkan dulu kejelekan kita, baru itu dinilai sama orang lain. Pihak terkait turun untuk memperbaiki, mengangkut sampah atau bagaimana itu kan. Kalau kita sembunyikan, enggak ada perubahan. Kalau kita perlihatkan kekurangan kita, nih kekurangan Sangrawayang nih, kita jangan malu, jangan merasa wah tercemar nih, kan kenyataannya memang begini," akhir bicara Dede.
Kontroversi ini menimbulkan pertanyaan tentang pentingnya partisipasi masyarakat dalam upaya pelestarian lingkungan dan peran pemerintah desa dalam mengelola inisiatif semacam itu. *
Artikel Terkait
Makin Canggih! Banyak Penjual Online Di China Gunakan AI Yang Bisa Jualan 24 Jam Tanpa Henti
Gempa Magnitudo 5.4 SR Guncang Wilayah Sukabumi, Tidak Lama Tapi Bikin Panik
Ini Dia Lokasi Warung Gado Paling Top di Kota Cirebon, Pecinta Kuliner Wajib Tahu !!
Kisah Jema, Anaknya Novita Angie Alami Kejadian Blackout Di PVJ Bandung
Pria Lakukan Pembunuhan Terhadap Istri di Probolinggo, Anak Ikut Bantu Ayah Untuk Proses Pembunuhan