Abu Zayd Al Balkhi: Pemikir Muslim yang Menyelami Kesehatan Mental Sejak Abad ke-9, Jauh Sebelum Psikologi Modern

photo author
M. Sulaeman, Fajar Nusa
- Selasa, 5 Agustus 2025 | 13:31 WIB
Pemikir Muslim, Abu Zayd Al Balkhi yang menyelami pentingnya kesehatan mental sejak abad ke-9 Masehi. (X.com/@midhfulhue)
Pemikir Muslim, Abu Zayd Al Balkhi yang menyelami pentingnya kesehatan mental sejak abad ke-9 Masehi. (X.com/@midhfulhue)

FAJARNUSA.COM - Jauh sebelum diskusi modern tentang kesehatan mental, terdapat satu nama dari abad ke-9 yang jarang terdengar namun meninggalkan warisan penting dalam dunia psikologi, dia adalah Abu Zayd Al-Balkhi. 

Lahir pada tahun 850 M di Shamistiyan, Balkh (kini Afghanistan), Al-Balkhi dikenal sebagai seorang cendekiawan muslim yang mempelajari banyak bidang, mulai dari geografi, matematika, hingga ilmu jiwa. 

Pada masa mudanya, Al-Balkhi belajar di Irak, salah satunya kepada filsuf terkenal Abu Yusuf al-Kindi. Perjalanannya ke pusat peradaban Islam yang tengah mengalami masa keemasan membentuk cara pandangnya. 

Baca Juga: Polres Subang Gerak Cepat Tangani Ledakan Gas di PT Pertamina EP Cidahu Subang

Dalam karyanya 'Masalih al-Abdan wa al-Anfus' atau yang artinya Makanan untuk Tubuh dan Jiwa, Al-Balkhi menyebut kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan tubuh. 

Pada abad ke-9 Masehi, Al-Balkhi telah memperkenalkan konsep al-Tibb al-Ruhani (pengobatan jiwa) dan Tibb al-Qalb (pengobatan hati), istilah yang pada masa itu sangat revolusioner.

Baginya, seseorang tidak bisa sehat sepenuhnya bila tubuh dan jiwanya tidak saling mendukung. Ia bahkan membagi gangguan emosional menjadi empat kelompok utama: rasa takut dan cemas, kemarahan dan agresi, kesedihan dan depresi, serta obsesi. 

Baca Juga: Viral Insiden KRL Arah Bogor ke Jakarta Kota Anjlok, KAI Kini Terapkan Rekayasa Rute

Al-Balkhi juga mengkritik para tabib pada masanya karena terlalu fokus pada penyakit fisik. Dalam karyanya, ia menulis: "Karena manusia tersusun dari jiwa dan tubuh, maka kesehatan sejati tidak akan terwujud tanpa keduanya berjalan selaras,"

Pemikiran Al-Balkhi tak lepas dari pengaruh ajaran Islam. Ia merujuk pada ayat Qur’an seperti “Dalam hati mereka ada penyakit” (QS 2:10), serta hadis Nabi Muhammad yang menyebut hati sebagai pusat kebaikan dan keburukan manusia. 

Berkaca dari hal itu, sang pemikir Islam yang hidup ribuan tahun yang lalu, telah mengajarkan warisan panjang yang sudah ada sejak abad pertengahan Islam. 

Baca Juga: Disdukcapil Kuningan Raih Nilai Tertinggi Penilaian Kinerja Tingkat Jawa Barat

Hari ini, ketika dunia menghadapi krisis kesehatan mental yang serius, karya dan gagasan Al-Balkhi terasa relevan untuk kembali diselami.*** 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M. Sulaeman

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Bupati Dian Hadiri Cilimus Bershalawat Jilid 2

Sabtu, 13 September 2025 | 08:45 WIB

Dai Muda Unjuk Gigi, Semarakkan Maulid Nabi di Indramayu

Kamis, 11 September 2025 | 05:04 WIB
X