Habib Ali dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih sekaligus pendiri pesantren Syamsul Huda pada tahun 1935.
Keilmuan dan dedikasinya menjadikan beliau dihormati sebagai salah satu dari "Wali Pitu" atau tujuh wali yang dianggap memiliki kedudukan spiritual tinggi di Bali.
Berkaca dari hal itu, makam-makam tak hanya nilai spiritual, namun juga telah dikelola sebagai objek wisata religi.
Di sekitar area terdapat rumah panggung tradisional dan jajanan lokal yang memperkaya pengalaman ziarah. Tiket masuk pun tidak dipatok, cukup dengan donasi sukarela dari para pengunjung.
Kampung Loloan kini tidak hanya dikenal sebagai pusat komunitas Muslim di Bali Barat, tetapi juga sebagai situs sejarah yang merekam dakwah Islam menembus batas budaya.
Melalui wisata religi ini, masyarakat tidak hanya menziarahi pusara para tokoh suci, tetapi juga mengenang perjalanan panjang dakwah yang telah membentuk harmoni keberagaman di Bali, khususnya di Jembrana.***
Artikel Terkait
Dualisme Kepengurusan Yayasan WR Supratman, Keluarga Besar Menolak Pihak Lain Mengatasnamakan Warisan Sejarah
Cirebon Catat Sejarah: PLTB Pertama di Pulau Jawa Siap Dibangun, Sedong Jadi Pusat Energi Hijau Baru
Napak Tilas Perjalanan 128 Tahun Sejarah Pembangunan Jalur Kereta Api Cirebon - Semarang
Cirebon dan Guangzhou Bangkitkan Kembali Jejak Sejarah Jalur Sutra Maritim
Puri Agung Negara: Napak Tilas Kerajaan Jembrana di Balik Gaya Arsitektur Khas Belanda