Hari Santri Nasional 2022: Saat Resolusi Jihad Ubah Wajah NU yang Moderat Jadi Radikal dan Revolusioner

photo author
Hanung, Fajar Nusa
- Sabtu, 22 Oktober 2022 | 11:56 WIB
Setelah KH Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa jihad, semangat kaum muslimin membara untuk melawan penjajah sampai titip terakhir. (Gambar : Istimewa)
Setelah KH Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa jihad, semangat kaum muslimin membara untuk melawan penjajah sampai titip terakhir. (Gambar : Istimewa)

FAJARNUSA - Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober. merupakan Perayaan memperingati deklarasi Resolusi Jihad yang digagas oleh tokoh Nahdlatul Ulama (NU) KH. Hasyim Asy'ari

Siapa sangka NU yang dikenal dengan wajah moderat mampu menjadi revolusioner dengan menampilkan wajah radikalnya via Resolusi Jihad yang digagas KH. Hasyim As'ary.

Deklarasi perlawanan NU terhadap sekutu yang kemudian hari disebut Resolusi Jihad tersebut bermula saat sekutu yang ditunggangi NICA (tentara Belanda) ingin berkuasa kembali di Indonesia usai Jepang kalah di Pasifik dalam oerang Dunia II.

Baca Juga: Profil Ning Imaz Fatimatuzzahro, Anak Kiayi NU yang Dihina Eko Kuntadhi

Usai Jepang kalah di Pasifik Sekutu yang diwakili Inggris datang ke Indonesia menyapu hampir semua basis tentara Jepang di Nusantara.

Kota-kota utama yang diduki Jepang dengn mudah dikuasai sekutu, melansir Historia.id sampai akhir 1945 Sekutu atas nama NICA (Netherlands Indies Civil Administration) menduduki Jakarta.

Sementara Indonesia yang telah memproklamirkan kemerdekaannya bersikap pasif usai Kota-kota utama di Indonesia mulai jatuh ketangan Inggris seperti Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya.

Baca Juga: LAKPESDAM PCNU Kota Serang Dorong Inklusifitas Beragama dan Kesalehan Sosial di Masyarakat

NU yang gerah saat melihat gelagat pemerintah Indonesia yang ingin menyelesaikan konflik dengan sekutu via jalur diplomatik segera mendesak pemerintah untuk menyelesaikannya di jalur konfrontasi.

Menurut Van Bruinessen, Resolusi Jihad merupakan pengakuan NU tergadap legitimasi pemerintahan Indonesia sekaligus kritik atas sikap pasif pemerintah terhadap sekutu.

Lalu pada 21 - 22 Oktober 1945 saat perwakilan NU dari Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya, dipimpin langsung oleh sang pendiri KH. Hasyin Asy'ari NU dengan tegas menyatakan perjuangan kemerdekaan sebagai Jihad dan menentang kembalinya Belanda adalah kewajiban.

Baca Juga: MANDEK...!Rugikan Negara Rp. 23,6 Triliun, Komisi III Panggil Jaksa Agung dan Jampidsus

Dalam pertemuan tersebut NU juga menyatakan menentang keinginan Jepang dan Belanda telah melakukan kejahatan dan bertindak kejam untuk kembali menjajah Indonesia yang telah merdeka dan berdaulat.

Via pasukan yang kelak dikenal dengan Sabilillah yang dipimpin tokoh NU KH. Maskur NU memimin perang melawan Sekutu untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Hanung

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X