FAJARNUSA - Akhirnya tim gabungan independen pencari fakta tragedi Kanjuruhan dalam pertandingan sepakbola Arema vs Persebaya telah merampungkan hasil investigasinya dan menemukan sejumlah fakta mengerikan.
Disampaikan Mahfud MD proses jatuhnya korban dalam Tragedi Kanjuruhan ternyata jauh lebih mengerikan daripada yang ditampilkan televisi dan video - video yang tersiar di sosial media.
"Rekaman cctv lebih mengerikan daripada yang beredar di tv dan media sosial" Ujar Mahud MD.
Baca Juga: Kejanggalan Eksekusi Rumah Wanda Hamidah Oleh Anies Baswedan
Mahfud MD juga menyampaikan bahwa kematian ratusan suporter Aremania di stadiun Kanjuruhan dipastikan setelah adanya tembakan gas air mata dari pihak keamanan.
Meskipun saat ini BRIN sedang menguji gas air mata yang digunakan oleh pihak keamanan dalam menghalau suporter saat tragedi Kanjuruhan Mahfud menyampaikan bahwa hal tersebut tidak mengurangi kesimpulan bahwa kematian masal di Kanjuruhan karena gas air mata.
Baca Juga: Irjen Pol teddy Minahasa Ditangkap karena narkoba, Kapolri Jendral Listio Sigit Prabowo Buka Suara
"Massa berdesak-desakkan akibat gas air mata. tingkat berbahayanya gas air mata, masih diteliti BRIN, tetapi apapun hasilnya tdk akan mengubah kesimpulan TGIPF bahwa penyebab jatuhnya banyak korban adalah karena gas air mata" ungkap Mahduf MD.
Dari hasil pemeriksaan TGIPF, semua stakeholder menghindar dan berlindung ke peraturan-peraturan.
"jika kita mengandalkan pada nota formal, maka tidak ada yg salah". maka rekomendasi TGIPF, PSSI harus bertanggungjawab. tanggung jawab asas hukum dan tanggung jawab moral.
TGIPF dalam laporannya meminta Ketua Umum PSSI dan jajaran Komite Eksekutif mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawaban moral.***