Jadi, lebih aman masang foto standar tiap perayaan, daripada dianggap tidak hadir di hati rakyat.
Saatnya Generasi Baru Membalik Tradisi
Sebagai generasi yang hidup di era digital, kita sebenarnya punya pilihan. Kita bisa memilih untuk merdeka dari budaya boomers ini dengan membuat ucapan yang lebih kreatif dan relevan (meme, infografik, atau karya seni), menyoroti rakyat atau tokoh sekitar, serta mengedepankan cerita nyata ketimbang senyum formal.
Baca Juga: Polemik Royalti Lagu Indonesia Raya di Laga Timnas, Istana: Sedang Cari Jalan Keluar dengan Kemenkum
Generasi lama kerap meyakini bahwa keabsahan ucapan selamat ditentukan oleh ada atau tidaknya foto pejabat yang menyertainya.
Sementara generasi muda lebih menekankan bahwa makna ucapan selamat justru terletak pada substansi pesannya, bukan pada wajah yang dipajang sebagai simbol kuasa.
Mengubah budaya postingan ucapan selamat bukan perkara mudah. Selama pejabat masih merasa perlu “hadir” di ruang publik, wajah mereka akan terus mendominasi poster dan feed media sosial.
Baca Juga: Roy Suryo cs Minta Pemeriksaan soal Ijazah Jokowi Ditunda, Polisi: Kami Tangani Sesuai SOP
Tetapi perubahan bisa dimulai dari masyarakat; dengan memilih untuk tidak ikut menyebarkan unggahan yang sekadar formalitas, melainkan lebih memberi ruang bagi konten yang benar-benar bermakna.
Lewat langkah tersebut, kita dapat sedikit demi sedikit melepaskan diri dari dominasi wajah pejabat yang sering menutupi esensi sebenarnya dari sebuah perayaan.
(Nisa Aliyyatul Asura)