Tetapi yang paling terlihat justru foto pejabat dengan pose formal, bukan narasi tentang makna kemerdekaan itu sendiri.
Begitu juga dengan Hari Guru.
Alih-alih menyoroti kisah inspiratif guru-guru di pelosok, ruang publik kita justru dipenuhi ucapan formal dari pejabat.
Baca Juga: Mandat Prabowo dalam Pidato Kenegaraan: Saya Tugaskan Danantara Bereskan BUMN
Ironisnya, banyak guru yang masih berjuang dengan gaji rendah, fasilitas minim, dan status kerja yang tidak jelas.
Bagi generasi boomers, ucapan selamat tanpa foto itu kayak esports tanpa caster; hambar, ada yang main tapi nggak ada hype, jadi basi.
Sebuah analogi yang gagal paham, masih menganggap bahwa foto adalah tanda kehadiran.
Makin besar fotonya, makin besar pula kesan kekuasaan dan eksistensi yang ditampilkan. Padahal, itu cuma sebatas flexing murahan.
Masalahnya, logika ini tak pernah diperbarui. Akhirnya, ketika berpindah ke media sosial, formatnya tetap sama: wajah di tengah, kata-kata di pinggir, logo instansi di bawah. Hasilnya? Ruang digital kita jadi semacam museum template ucapan.
Kenapa Masih Bertahan?
Baca Juga: Ikut Berduka Ditinggal sang Sahabat, Anwar BAB Ungkap Pesan Mpok Alpa Jika Suatu Hari Menikah
Ada dua alasan utama kenapa budaya boomers ini masih bertahan. Pertama, politik simbolik. Kehadiran wajah di setiap ucapan adalah cara sederhana untuk mengingatkan rakyat seolah-olah bilang, “Jangan lupa, aku pejabatmu.”
Kedua, ketakutan dianggap absen. Dalam logika kekuasaan, tidak mengucapkan sama saja dengan tidak peduli.
Akhirnya, ruang publik kita penuh dengan spanduk ucapan yang lebih sibuk menunjukkan siapa pengucapnya ketimbang makna ucapan itu sendiri.