FAJARNUSA.COM (JAKARTA) -- Eks Mendikbud Muhadjir Effendy mengusulkan perguruan tinggi dapat memanfaatkan pemasukan dari momen wisuda dengan biaya tinggi, khususnya perguruan tinggi swasta.
Muhadjir mulanya mengkritik Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dianggap tidak pandai mencari pemasukan selain dari APBN. Menurutnya, hal ini perlu diubah.
"Jadi memang menurut saya PTN kita itu memang tax spender boy. Jadi sudah biasa belanja, tidak biasa cari uang. Jadi harus ada perubahan karakter. Ajarilah mereka ini untuk cari duit, bukan untuk buang duit," ujar Muhadjir di ruang rapat Komisi X DPR, Senayan, Jakarta.
Baca Juga: APBD 2023 Kota Cirebon Sektor Pajak Alami Kenaikan 7,8 Miliar, Pj Wali Kota: Tertib Pajak Partisipasi Aktif Pembangunan Daerah
Menko PMK ini mengatakan sejumlah PTN Badan Hukum yang telah prominen dapat mengkapitalisasi modal dari mahasiswa. Namun, kata dia, perlu ada subsidi silang antara mahasiswa baru dengan yang lebih lama.
"Jadi naikkan lah kepada maba saja dan itu jangan naik sampai nanti selesai dia, sehingga orang tua punya kepastian. Kalau yang lama biar selesai sampai selesai. Memang ada kalau di swasta itu tetap ada pimpinan namanya variable cost," lanjutnya.
"Nama besar PTN-BH itu namanya besar-besar tinggal mengkapitalisasi saja modalnya itu. Dan saya kemarin sampaikan, misalnya, naikkan biaya itu jangan serta-merta," kata Muhadjir.
Baca Juga: Cara Cek NIK KTP Secara Online
"Bahkan sebetulnya untuk swasta biasanya itu momen-momen untuk bisa mengenai biaya tinggi. Misalnya, wisuda itu tarik yang tinggi karena nggak ada orang akan protes walaupun mahal, karena waktu saat gembira anaknya mau wisuda bayar berapapun dikasih. Kalau perlu biar satu truk keluarganya akan datang nggak apa-apa tapi harus beli undangan," kata Muhadjir.
Soal perguruan tinggi swasta (PTS), Muhadjir menyinggung pemanfaatan pemasukan biaya wisuda. Dia menilai tidak akan ada pihak mahasiswa yang protes meski biaya wisuda melonjak.