Namun, pelukan tersebut terlepas setelah berulang kali dihantam air dan kayu.
Rumah Hancur dan Selalu Ingat Kenangan dengan Anaknya
Jenazah Mumtaz sudah ditemukan pascabanjir, tapi kondisi wajahnya sudah berubah.
Akibat banjir tersebut, rumahnya hancur dan potongan kayu beragam ukuran berserakan di depan rumah yang dulu ditinggali.
“Biasa waktu pulang kerja, selalu minta jalan-jalan dulu. Jadi, selama pulang ini selalu teringat Mumtaz,” tuturnya.
Sementara itu, Desa Garoga menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah banjir dan longsor.
Baca Juga: Antisipasi Lonjakan Mobilitas, Pemkot Cirebon Siapkan Pengamanan Ekstra untuk Nataru 2025
Pembersihan batang kayu di Garoga pun menjadi prioritas pemerintah saat ini.
Ada 3 hal yang tengah dilakukan oleh Kementerian Kehutanan, yakni membersihkan bagian hilir, pemantauan titik longsor di hulu, dan peringatan dini kepada masyarakat soal potensi banjir susulan disertai kayu.
Pemerintah Daerah juga tengah menyiapkan pembangunan hunian tetap kepada korban banjir dan longsor, termasuk untuk warga di Garoga.
Baca Juga: SMKN 1 Rembang Buka Suara Soal Video Viral Perundungan Siswa Disabilitas: Fokus pada Psikis Anak
Pembangunan rumah tersebut, menurut Pemda ditargetkan akan rampung pada awal tahun 2026.
***
Artikel Terkait
Kisah Haru di Balik Banjir Aceh: 3 Hari Kelaparan, Warga Tetap Bersyukur Meski Hanya Terima Beras 2 Gelas
Fakta di Balik Bencana Sumatera dari Pengamatan Ferry Irwandi: Kita di Sana Menjaga Moral, Tidak Saling Menyalahkan
Penantian Pilu 14 Hari di Balik Timbunan Tanah: Kisah Wanita di Sibolga Akhirnya Temukan Jasad Orang Tua
Detik-detik Banjir Bandang Terjang Guci Tegal, Pancuran 5 dan 13 Dilaporkan Rusak Parah