Kolosal Angklung “Terpujilah Guruku” Meriahkan Hardiknas

photo author
M. Sulaeman, Fajar Nusa
- Jumat, 2 Mei 2025 | 14:13 WIB
Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Kabupaten Kuningan larut dalam harmoni angklung yang dimainkan secara kolosal oleh para guru dan pelajar turut juga Bupati, Wabup, Sekda Provinsi Jabar, Forkopimda dan lainnya, usai pelaksanaan upacara di Lapang Stadion Mashud Wisnusaputra, Jumat (2/5/2025) (Dokumentasi)
Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Kabupaten Kuningan larut dalam harmoni angklung yang dimainkan secara kolosal oleh para guru dan pelajar turut juga Bupati, Wabup, Sekda Provinsi Jabar, Forkopimda dan lainnya, usai pelaksanaan upacara di Lapang Stadion Mashud Wisnusaputra, Jumat (2/5/2025) (Dokumentasi)

Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si yang juga dikenal sebagai penggagas  Kuningan sebagai Kabupaten Angklung Diatonis, memberikan apresiasi tinggi atas penampilan para guru dan pelajar. “Harmoni angklung ini menggambarkan semangat kolaborasi dalam dunia pendidikan yang menyatukan dengan  kearifan lokal yang kita jaga bersama,” ungkapnya.

Baca Juga: Viral Kocak Warga Bogor Minta Damkar Tiup Lilin Bareng, Gegara Diputusin Pacar saat Ulang Tahun

Menurutnya, Ini bukan sekadar pertunjukan, tapi bentuk ekspresi budaya dan pendidikan karakter melalui seni. Angklung menjadi medium kebersamaan yang mampu menyatukan lintas generasi. Sekaligus  menjaga dan merawat sebagai khazanah kearifan lokal,  juga kekayaan bangsa.

Sebelumnya  angklung tidak bisa dimainkan bersamaan dengan musik kontemporer seperti musik Pop, Jazz ataupun rock seperti saat ini. Angklung hanya bisa mengikuti jenis nada pentatonik seperti gamelan, gambang kromo dan lain sebagainya.

Namun pada tahun 1938, Daeng Soetigna, seorang guru SMP 1 Kuningan, berguru kepada kuwu Citangtu bernama lengkap Muhammad Sotari atau yang biasa dikenal dengan nama Pak Kucit, menciptakan angklung dengan tangga nada diatonis. Daeng Sutigna, belajar membuat angklung, mulai dari memilih bambu yang tepat, sampai menyesuaikan nadanya hingga pas, kepada pak Kucit, pada masa itu.

Angklung inovasi tersebut berbeda dengan angklung pada umumnya yang berdasarkan tangga nada tradisional pelog atau salendro.Tangga nada diatonis adalah tangga nada yang mempunyai dua jarak tangga nada, yakni satu dan setengah.

Jenis tangga nada Diatonis ini sering ditemukan pada musik-musik modern atau kontemporer.Karya angklung diatonis inilah yang berhasil mendobrak tradisi, membuat alat musik tradisional Indonesia mampu memainkan musik-musik Internasional.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M. Sulaeman

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X