“Panen kali ini masih cukup baik meski tidak seoptimal biasanya. Per bau kami dapat 4 sampai 4,5 ton. Biasanya bisa sampai 5–6 ton, tapi alhamdulillah masih lebih tinggi dibanding desa lain,” kata Maksudi.
Menurutnya, keterlambatan tanam menyebabkan munculnya hama seperti walang sangit dan lembing batu yang menyerang buah padi. Tetapi semangat warga tetap tinggi dalam menyambut musim panen.
Ia berharap tradisi Mapag Sri terus dipertahankan, karena mampu memperkuat rasa kebersamaan warga sekaligus menyatukan semangat untuk terus bekerja dan menjaga kearifan lokal.
“Semoga tradisi ini bisa menambah semangat bertani, meningkatkan hasil, dan menguatkan persatuan di tengah masyarakat,” tuturnya.***
Artikel Terkait
Tradisi Sakral Siraman Panjang Jimat Astana Gunung Jati Cirebon, Perayaan Khusus dalam Maulid Nabi
Gamelan Usia 100 Tahun di Cirebon, Sedang Dilakukan Tradisi Pencucian
Tradisi Mapag Sri Desa Luwung Kabupaten Cirebon Bagian dari Budaya Yang Harus di Lestarikan
Siraman Al Ghazali Dibalut Tradisi Jawa, Cak Imin Terharu: Spiritual dan Penuh Makna