Svara Resonance: Ketika Nada Jalanan Menemukan Panggung Digital

photo author
M. Sulaeman, Fajar Nusa
- Minggu, 1 Juni 2025 | 08:06 WIB
Inilah Svara Resonance sebuah inisiatif dari mahasiswa Magister Manajemen Universitas Airlangga yang ingin mengubah nasib lewat nada. (Dok. Istimewa)
Inilah Svara Resonance sebuah inisiatif dari mahasiswa Magister Manajemen Universitas Airlangga yang ingin mengubah nasib lewat nada. (Dok. Istimewa)

FAJARNUSA.COM – Di tengah riuhnya Kota Surabaya, suara mereka kerap terdengar samar berada di sudut-sudut jalan menyanyikan harapan di antara bisingnya kendaraan.

Namun kali ini bukan hanya terdengar mereka benar-benar diberi panggung bukan hanya panggung fisik tapi juga ruang untuk tumbuh di dunia digital.

Inilah Svara Resonance sebuah inisiatif dari mahasiswa Magister Manajemen Universitas Airlangga yang ingin mengubah nasib lewat nada.

Baca Juga: KAI Siapkan KA Cirebon Fakultatif di Libur Panjang Bulan Juni

Digelar pada tanggal 30 Mei 2025 di Museum Pendidikan Surabaya, program ini bukan sekadar pertunjukan musik. Ini adalah bentuk keberpihakan pada mereka yang kerap tak terlihat.

Para pengamen jalanan yang selama ini mengandalkan hasil recehan dari lagu kini diajak membuka pintu ke peluang baru melalui digitalisasi dan strategi personal branding.

Program ini tidak lahir dari ruang kelas melainkan dari keberanian turun langsung ke lapangan. Mahasiswa menjelajahi sudut kota menemui sebelas musisi jalanan dan mendengar kisah mereka satu per satu.

Baca Juga: Seskab Teddy Ungkap Sederet Universitas Top Inggris Raya Tertarik Bangun Kampus di RI

Salah satunya adalah Dani seorang pemuda yang harus menjadi tulang punggung bagi dua keponakannya setelah ditinggal sang ibu. Mengamen menjadi pilihannya bukan karena bakat semata melainkan karena tanggung jawab.

Lima dari mereka kemudian dikurasi untuk tampil dalam acara puncak dan menerima pelatihan langsung tentang dunia digital.

Mereka belajar membangun akun media sosial mengenal pentingnya diferensiasi serta memahami bagaimana mengubah suara menjadi sumber penghasilan melalui platform seperti TikTok dan YouTube.

Baca Juga: Fakta Terkini Kasus Pembunuhan Bos Sawit di Inhu Riau, Jasad Hilang Misterius di Sungai Kuantan

Semua dilakukan dengan peralatan yang mereka miliki sehari-hari yaitu ponsel sederhana dan koneksi internet.

Svara Resonance tidak dimaksudkan untuk menjadikan mereka viral namun untuk membekali mereka dengan pemahaman bahwa di era digital setiap orang memiliki peluang yang sama. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk tampil apa adanya dan konsistensi dalam menunjukkan jati diri.

Dengan dukungan dari musisi senior Edi Hazt serta arahan dari Prof Dr Gancar C Premananto kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa ilmu manajemen dapat diimplementasikan secara langsung untuk mendorong perubahan sosial.

Baca Juga: Tiga Bocah Jadi Korban, Lansia di Pesanggrahan Diringkus Polisi karena Dugaan Pelecehan

Ilmu yang biasanya hanya tinggal dalam slide presentasi kini hidup menjadi jembatan antara pengetahuan dan pengabdian.

Salah satu titik balik dari kegiatan ini adalah ketika para pengamen melihat langsung bagaimana lagu yang mereka bawakan bisa disiarkan dan diapresiasi secara luas. Mata mereka berbinar ketika menyadari bahwa dunia tidak lagi sebatas trotoar dan lampu merah.

Ada peluang yang selama ini tertutup rapat karena tak ada yang mengajarkan cara membukanya.

Baca Juga: Pemkab Cirebon Dukung Penuh Penutupan Tambang, Polisi Periksa Pemilik dan Operator

Bagi mahasiswa yang terlibat kegiatan ini juga menjadi refleksi mendalam. Bahwa ilmu bukan sekadar soal karier atau nilai akademis. Ilmu bisa menjadi alat untuk mengangkat sesama dan menjahit ulang makna dari keberadaan kita di tengah masyarakat.

Svara Resonance bukan sekadar proyek mata kuliah. Ia adalah bentuk simpul rasa pada kenyataan sosial yang sering kali terabaikan.

Kami percaya bahwa dampak tidak selalu harus besar. Terkadang perubahan dimulai dari satu nada satu aksi dan satu kesempatan yang dibuka untuk mereka yang selama ini hanya menjadi latar suara di antara keramaian kota. (Dani Febri)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M. Sulaeman

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X