nasional

Jalur Minyak Global di Selat Hormuz Terancam Ditutup, Menteri Bahlil Ngaku Siapkan Langkah Taktis dengan Pertamina

Rabu, 25 Juni 2025 | 15:41 WIB
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. (Instagram.com/@bahlillahadalia)

FAJARNUSA.COM -- Dampak konflik Iran dan Israel di Timur Tengah memicu kekhawatiran sebagian publik terhadap ketidakpastian global terhadap pasokan minyak mentah domestik, termasuk bagi Indonesia.

Salah satunya terkait ketersediaan minyak mentah di Selat Hormuz, Iran, yang terancam ditutup menyusul konflik yang memanas. Pasalnya, minyak yang dikirim lewat selat itu diketahui setara dengan 30 persen pasokan minyak global.

Perihal itu, kini Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Bahlil Lahadalia berencana menggelar rapat bersama dengan direksi PT Pertamina (Persero) dalam waktu dekat.

Baca Juga: Perang Iran-Israel: Percikan Api Menuju Armageddon dan Kebangkitan Pan-Islamisme

Bahlil menyebut, rapat tersebut membahas mengenai upaya mengamankan pasokan minyak mentah domestik di tengah ketidakpastian global imbas konflik Iran dan Israel.

Menteri ESDM itu membeberkan potensi ancaman yang dihadapi terkait ketersediaan minyak mentah di RI, apabila Selat Hormuz ditutup oleh pemerintah Iran.

"Akan ada rapat dengan Pertamina untuk membahas berbagai langkah-langkah taktis dalam menghadapi dinamika global, khususnya kepada ketersediaan energi kita. Karena menyangkut dengan Selat Hormuz ini harus kita hitung baik," ujar Bahlil usai acara Jakarta Geopolitical Forum (JGF) ke-9 di Jakarta, pada Rabu, 25 Juni 2025.

Baca Juga: Kini Rail Clinic Hadir di Stasiun Arjawinangun Pelayanan Kesehatan dan Pengobatan Gratis Bagi Masyarakat Sekitar

Bahlil mengklaim, sebagian impor minyak mentah RI masih berasal dari kawasan Timur Tengah yang distribusinya melalui Selat Hormuz. 

Di sisi lain, Indonesia juga melakukan kegiatan impor dari sejumlah negara lain seperti Afrika dan Amerika latin, seiring dengan adanya beberapa sumur yang dioperasikan oleh Pertamina di kawasan tersebut.

"Tapi kita itu sebenarnya, impor kita itu banyak, itu juga dari Afrika, Amerika latin, karena beberapa sumur-sumur minyak Pertamina ada di sana," ungkap Bahlil. 

Baca Juga: Pembicaraan Telepon Presiden Prabowo dengan Presiden Korea Selatan: Ini Poin-Poin yang Dibahas

"Kemudian beberapa timur tengah. Tapi nanti berapa pastinya, saya akan cek," tukasnya.***

 

Tags

Terkini