FAJARNUSA.COM (Bandung) -- Perekonomian Jawa Barat pada triwulan I tahun 2025 menunjukkan performa yang tangguh di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama pemerintah pusat terus berupaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui optimalisasi pendapatan negara, efisiensi belanja, serta penguatan sektor ekonomi kerakyatan seperti UMKM.
Berikut disampaikan kinerja makro ekonomi dan fiskal Jawa Barat triwulan I tahun 2025 secara lengkap.
Baca Juga: Langkah Nyata Pemkab Cirebon Gapai Mimpi Jadi Daerah Sentra Nila
A. Kinerja Makro Ekonomi Triwulan I 2025 Jawa Barat
1. Ekonomi Jawa Barat menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah ketidakpastian global yang semakin tinggi, dengan tumbuh positif sebesar 4,98 persen (yoy) pada triwulan I 2025.
Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 31,89 persen.
Baca Juga: KAI Daop 3 Cirebon Sediakan 23 Ribu Tiket Kereta Api saat Libur Hari Raya Waisak
Dari sisi pengeluaran, Komponen PK-LNPRT mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 5,8 persen.
2. Pada Maret 2025 terjadi Inflasi sebesar 0,81 persen (yoy) dengan IHK 107,64. Penyumbang utama Inflasi yoy diantaranya Emas Perhiasan, Kopi bubuk, Minyak goreng, Cabe rawit, dan Bawang merah.
Harga emas sepanjang tahun 2025 terus mengalami kenaikan, sementara faktor cuaca menyebabkan hasil produksi bawang merah dan cabai rawit di Jawa Barat mengalami penurunan.
Baca Juga: Kota Cirebon Suarakan Empat Isu Strategis dalam Musrenbang Provinsi Jawa Barat 2025
3. Neraca Perdagangan Maret 2025 (yoy) surplus USD 2,11 miliar, dengan total ekspor USD 3,09 miliar dan total impor USD 0,98 miliar. Dari sisi volume perdagangan luar negeri, pada bulan Maret 2025 terjadi surplus sebesar 223,35 ribu ton.
Dilihat dari transaksi perdagangan Nonmigas dengan mitra dagang utama, mengalami defisit neraca perdagangan dengan Tiongkok dan Taiwan, sedangkan perdagangan Nonmigas dengan AS menunjukan surplus mencapai USD 441,39 juta.
4. NTP Maret 2025 turun 0,38 persen menjadi 113,10, sedangkan NTN naik 1,75 persen menjadi 112,54. NTP Jawa Barat turun, karena kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) lebih tinggi dibanding Indeks Harga yang Diterima Petani (It) yang dikontribusi oleh kenaikan tarif listrik dan harga telur ayam ras.