“Kami pastikan tidak hanya biaya sekolah yang ditanggung, tetapi juga kebutuhan sehari-harinya,” kata dia.
Imron berharap, kasus ini menjadi perhatian bersama, khususnya bagi lingkungan sekolah dan masyarakat, untuk lebih peka terhadap kondisi sosial dan psikis peserta didik, sehingga kasus serupa dapat dicegah lebih dini.
Sementara itu, pihak SMAN Tengah Tani melalui Kepala Sekolah, Euis Yeti Srinawati, mengungkapkan bahwa pihak sekolah tidak pernah mengeluarkan M.
Ia menjelaskan, siswa tersebut sempat tidak hadir sejak awal semester dan sulit dihubungi karena berpindah-pindah tempat tinggal.
“Kami justru mencarinya. Kami sudah mencoba menjalin komunikasi, tapi memang sulit karena alamatnya tidak tetap,” ujar Euis.
Ia juga menambahkan, bahwa sekolah terbuka terhadap siswa yang mengalami kendala, baik ekonomi maupun psikologis, dan tidak membebani siswa dengan biaya yang menyulitkan.
“Justru di sini tidak mengekang, apalagi soal biaya pendidikan,” pungkasnya.***
Artikel Terkait
827 Siswa Jakarta Terima Ijazah Berkat Program Pemutihan Ijazah Tahap Ketiga
Dedi Mulyadi Tanda Tangani SE Soal Jam Masuk Sekolah di Jabar, Siswa Mulai Belajar Pukul 06.30 WIB
Setelah Jam Malam Anak Sekolah, Terbit Larangan Guru Kasih PR untuk Siswa di Jabar
Telisik Skandal Dugaan Jual Beli 'Kursi' SPMB 2025 Senilai Rp8 Juta per Siswa di Bandung