khazanah

Menapak Jejak Dakwah Islam di Jembrana: Wisata Religi ke Makam Buyut Lebai dan Ustaz Ali Bafaqih

Rabu, 16 Juli 2025 | 15:33 WIB
Makam Buyut Lebai di Loloan Timur, Jembrana, Bali. (Dok. Pemprov Bali)

FAJARNUSA.COM - Tradisi ziarah menjadi budaya yang hidup dan lestari di kalangan masyarakat Indonesia, termasuk di wilayah ujung barat Bali.

Di tengah dominasi budaya Hindu, wilayah Jembrana justru menyimpan jejak penyebaran Islam yang kuat, terutama di kawasan Kampung Loloan. 

Dua makam keramat yang menjadi saksi sejarah dakwah Islam di tanah Bali, yakni pusara tua Buyut Lebai dan makam Ustaz Ali Bafaqih.

Baca Juga: Viral Cerita Penumpang Kemalingan Laptop Lagi, Rosalia Indah Nonaktifkan Awak Bus yang Bertugas untuk Investigasi Internal

Kedua makam ini menjadi destinasi wisata religi yang terus dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. 

Tak hanya untuk mendoakan, tetapi juga menapaktilasi perjuangan para tokoh Islam dalam menyebarkan ajaran di tanah Bali sejak abad ke-17. 

Lokasinya terpisah namun sama-sama berada di Kecamatan Negara, Jembrana. Berikut ulasan selengkapnya:

Baca Juga: 3 Poin Keuntungan AS usai Donald Trump Umumkan Tarif Ekspor RI Turun Jadi 19 Persen

  1. Pusara Tua Buyut Lebai

Buyut Lebai atau yang memiliki nama lengkap Datuk Dawam Sirojuddin memiliki tempat peristirahatan terakhir di Jalan Gunung Agung, Kelurahan Loloan Timur, hanya sekitar 2,5 kilometer dari pusat Kota Negara. 

Buyut Lebai dikenal sebagai ulama besar asal Sarawak, Malaysia, yang diizinkan menyebarkan Islam oleh penguasa setempat kala itu. Ia lahir pada tahun 1619 M dan wafat pada tahun 1744 M silam. 

Baca Juga: Kejagung Temukan Grup WhatsApp Mas Menteri Core Team, Dibuat Dua Bulan Sebelum Pelantikan Nadiem Makarim

Di sekitar makamnya, juga terdapat pusara para tokoh Islam lainnya yang dipercaya sebagai rombongan pertama penyebar Islam di Jembrana. 

  1. Makam Ustaz Ali Bafaqih

Pada sisi barat Kampung Loloan, tepatnya di Jalan Nangka No. 145, Desa Loloan Barat, berdiri Pondok Pesantren Syamsul Huda, tempat bersemayamnya Habib Ali bin Umar bin Abu Bakar Bafaqih. 

Baca Juga: Guru Honorer Menangis di Rapat DPR, Keluhkan Gaji Rp540 Ribu dan Harap Bisa Diangkat Jadi PPPK

Sosok ulama kharismatik ini lahir di Banyuwangi pada 1 Januari 1882 dan wafat di usia 117 tahun, pada 22 Februari 1999 silam.

Halaman:

Tags

Terkini

Bupati Dian Hadiri Cilimus Bershalawat Jilid 2

Sabtu, 13 September 2025 | 08:45 WIB

Dai Muda Unjuk Gigi, Semarakkan Maulid Nabi di Indramayu

Kamis, 11 September 2025 | 05:04 WIB