FAJARNUSA.COM (JAKARTA) – Pendakwah kondang Miftah Maulana Habiburrahman, atau yang akrab disapa Gus Miftah, kembali menunjukkan jati diri dakwahnya yang ikonik. Pada Selasa (24/2/2026), ia menyambangi Colosseum Jakarta, salah satu klub malam ternama, untuk menggelar tausiah sekaligus buka puasa bersama para pekerja hiburan malam.
Langkah ini seolah menjadi momentum kembalinya Gus Miftah ke "habitat" dakwah yang dulu membesarkan namanya: merangkul kaum marjinal di ruang-ruang yang jarang tersentuh agama.
Pesan Sejuk: "Wahai Hamba-Ku"
Baca Juga: Demo Mahasiswa di Polda DIY Ricuh, Ring Road Utara Sempat Lumpuh: Ini Kronologi Lengkapnya
Di hadapan ratusan pekerja 1001 Hotel dan Colosseum, Gus Miftah menyampaikan pesan mendalam tentang rahmat Tuhan. Ia menegaskan bahwa Islam adalah agama yang merangkul, bukan memukul.
“Allah tidak memanggil manusia dengan sebutan ‘wahai pendosa’, melainkan ‘wahai hamba-Ku’,” ujar Gus Miftah disambut khidmat oleh para hadirin.
Ia berpesan agar para pekerja hiburan malam tidak merasa terasing dari kasih sayang Tuhan. Menurutnya, menghargai proses perubahan seseorang jauh lebih penting daripada memberikan stigma negatif.
Baca Juga: Viral Narasi 'Cukup Aku WNI, Anakku Jangan', Helmy Yahya Semprot Awardee LPDP: Itu Uang Rakyat!
Menghargai "Prestasi" Berhenti Maksiat
Gus Miftah juga menceritakan kembali kisahnya saat mendatangi lokalisasi. Kala itu, ia memberikan kompensasi kepada pekerja agar mau berhenti bekerja meski hanya semalam. Bagi Gus Miftah, itu adalah sebuah kemenangan kecil yang patut diapresiasi.
“Kalau berhenti satu malam saja itu berhasil, kenapa kita tidak menghargai proses?” cetusnya. Ia mengkritik fenomena sosial di mana orang yang merasa saleh justru sering memandang rendah mereka yang dianggap ahli maksiat.
Baca Juga: Bahaya! Galian Proyek Limbah di Penjaringan 'Makan Korban', 2 Pemotor Terperosok dalam Sehari
Menjawab Kritik dengan Aksi Nyata
Sempat diterpa berbagai kritik dan ujian belakangan ini, Gus Miftah menanggapi hal tersebut dengan bijak. Ia mengutip prinsip bahwa ujian adalah tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya.
“Manusia punya kendala, Allah punya kendali,” tuturnya. Alih-alih surut, ia mengaku ujian tersebut justru memicu semangatnya untuk lebih banyak berbagi. Terbukti, jumlah orang yang diberangkatkan umrah olehnya justru semakin bertambah pasca masa-masa sulit tersebut.
Baca Juga: Viral, Advokat KAI Ditusuk Oknum Debt Collector di Tangerang, Kapolres Tangsel: Kejar Pelakunya!
Dakwah Tanpa Sekat
Meski kehadirannya di klub malam kerap memicu pro-kontra, Gus Miftah tetap teguh pada prinsipnya bahwa dakwah tidak boleh dibatasi oleh dinding bangunan.
“Kalau yang di masjid sudah rajin, lalu siapa yang datang ke tempat-tempat seperti ini?” pungkasnya.
Artikel Terkait
Cerita Nelayan Cirebon Tak Sengaja Tarik Pancingan yang Nyangkut Harta Karun Rp720 Miliar di Laut Jawa
Satu Tahun Museum Topeng Cirebon, Wali Kota: Rumah Budaya dan Cermin Identitas
Dai Muda Unjuk Gigi, Semarakkan Maulid Nabi di Indramayu
Bupati Dian Hadiri Cilimus Bershalawat Jilid 2
Jejak Sejarah Huta Lumban Silo: Mengungkap Peran Op Tongam Sitanggang di Jantung Tano Ponggol