Dikutip dari berbagai sunber, koreografer pertama di Israel menciptakan tarian rakyat dengan menggabungkan berbagai elemen dari tarian Hasid, Balkan, Rusia, Arab, hingga Yaman.
Hora pun menjadi bagian dari berbagai perayaan keagamaan Yahudi, termasuk pernikahan, di mana pengantin diangkat di atas kursi sambil diiringi tarian melingkar oleh para tamu.
Kemiripan tarian THR dengan Hora pun mengundang reaksi keras dari sebagian masyarakat.
Beberapa pihak menyerukan agar tarian tersebut tidak diikuti, khususnya oleh umat Islam, karena dikhawatirkan bisa menjadi bentuk penjajahan budaya dan akidah secara halus.
Kekhawatiran ini berangkat dari pandangan bahwa meniru sesuatu yang tidak dicontohkan Rasulullah bisa menjurus pada penyimpangan.
Hal ini diperkuat oleh sebuah hadits yang berbunyi, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka." (HR. Abu Daud dan Ahmad).
Berdasarkan pandangan ini, umat Islam diimbau agar lebih berhati-hati dan selektif dalam mengikuti tren yang sedang viral.
Meski sebagian menganggap tarian ini hanya sebagai hiburan semata, penting untuk tetap mempertimbangkan nilai-nilai yang sesuai dengan ajaran Islam dan budaya lokal dalam menyikapi fenomena viral seperti tarian THR ini.
Artikel Terkait
Syarat Driver Ojek Online Gojek dan Grab Dapat THR? Cek di Sini!
Korlantas Polri Klaim Kecelakaan dan Korban Meninggal Dunia Saat Arus Mudik Lebaran 2025 Jauh Menurun Dibanding 2024, Berikut Data-datanya
Sambut Arus Balik Lebaran 2025, Stasiun Cirebon Mulai Ramai
Dapatkan Promo Silaturahmi Mudik Lebaran, Mudik Lebih Hemat dengan Diskon 25 Persen