FAJARNUSA.COM — Jamie Aditya, yang namanya masih dikenal oleh banyak generasi era 90-an sebagai mantan Video Jockey (VJ) di MTV Asia dan MTV Indonesia, telah mengalami perjalanan karier yang menarik dan berbeda.
Lahir pada 10 Maret 1970, dia adalah anak dari Ati Ashyawati, putri dari penulis dan sastrawan Sunda terkenal, Achdiat Kartamihardja, serta ayahnya, Stuart Graham, yang adalah warga negara Australia.
Ketika karirnya sebagai VJ MTV mencuri perhatian pemirsa dengan karismanya dan gaya humorisnya, Jamie meraih ketenaran pada tahun 1990-an.
Baca Juga: Lee Sun Kyun Terjerat Kasus Narkoba, Ini 5 Drakor yang Dibintangi Olehnya
Namun, pada tahun 2001, ia membuat keputusan mengejutkan untuk menghentikan kariernya sebagai VJ dan pindah ke Australia untuk merawat ibunya yang sedang sakit.
Selama di Australia, Jamie Aditya menghadapi tantangan dan perubahan besar dalam hidupnya. Terutama, saat pandemi Covid-19 melanda, ia memutuskan untuk bekerja sebagai kuli bangunan untuk memberikan contoh yang baik bagi anak-anaknya.
Meskipun pemerintah Australia memberikan dana kompensasi selama lockdown, Jamie merasa penting untuk bekerja demi keluarganya.
Baca Juga: Istri Lee Sun Kyun Dicurigai Terkait Penjualan Gedung di Gangnam, di Kode Suaminya?
“Saat itu sebenarnya pas lagi Covid, Melbourne di-lockdown, selama 2 tahun, kita gak boleh kluar lebih dari 3 kilo meter dari rumah,” paparnya.
Bekerja sebagai kuli bangunan, Jamie Aditya mendapatkan penghasilan yang signifikan. Dalam dua minggu, ia mengaku bisa mendapatkan bayaran antara $17 juta hingga $20 juta.
“Kita dibayar hampir $600 ribu/jam, kalau lembur bisa dua kalinya. Sekarang kata temen gue bisa dapat $30 juta/minggu,” jelasnya.
Baca Juga: Film Sleep Raih Posisi Teratas di Platform OTT, Eh Malah Diterpa Kontroversi Narkoba
Bahkan, beberapa teman Jamie mengklaim bahwa mereka dapat menghasilkan hingga $30 juta per minggu.
Namun, Jamie juga mengungkapkan bahwa pekerjaan sebagai kuli bangunan tidak datang tanpa risiko.
“Kita masang jendela, kusennya besi, berat 300 Kg, di pencakar langit, anginnya kenceng banget, kacanya tebel, temen gue pernah ketiban itu dari tingkat 8. Risikonya besar tapi duitnya besar,” tuturnya.
Artikel Terkait
Jelang Pilpres 2024 Cara Membatasi Paparan Berita Politik Untuk Hindari Berita Palsu
Kritikus Faizal Assegaf Soroti Politik Dinasti dan Nepotisme di Pesta Politik 2024
Resmi Dibuka Pekan Raya Cirebon 2023, Kolaborasi UMKM, Pemerintah, dan Perusahaan Lokal
Daun Kratom, Tanaman Herbal Yang Diwacanakan BNN Masuk Kategori Narkotika Golongan 1
Curhatan Seorang Perempuan Dalam Acara Ustaz Hanan Attaki Viral di Media Sosial