FAJARNUSA.COM (JAKARTA) – Industri asuransi dan dana pensiun (Dapen) tengah bersiap menghadapi babak baru dalam pengelolaan portofolio. Rencana peningkatan batas investasi saham dari kisaran satu digit menjadi hingga 20% per emiten dinilai akan memperluas fleksibilitas pendanaan jangka panjang.
Namun, fleksibilitas ini ibarat dua sisi mata uang. Kepala IFG Progress, Ibrahim Kholilul Rohman, menegaskan bahwa kebijakan ini harus dibarengi dengan tata kelola (governance) yang ketat dan manajemen risiko yang disiplin.
"Fleksibilitas investasi memang penting untuk meningkatkan kapasitas pembiayaan jangka panjang. Namun, setiap ruang fleksibilitas harus diimbangi dengan seleksi aset yang ketat serta pengelolaan risiko berbasis profil liabilitas masing-masing institusi," ujar Ibrahim.
Baca Juga: Jangan Abaikan Surat DJP, PMK 111/2025 Tegaskan Sanksi dan Prosedur Pengawasan Terbaru
Fokus pada Saham Blue Chip dan Likuiditas
Meskipun menyasar saham berkapitalisasi besar (big cap) yang relatif stabil, peningkatan batas hingga 20% tetap menyimpan potensi risiko konsentrasi. Hal ini krusial di pasar berkembang yang sensitif terhadap sentimen non-fundamental.
IFG Progress menyarankan agar kriteria saham yang mendapatkan batas tinggi tidak hanya dilihat dari aspek likuiditas, tetapi juga:
Baca Juga: Banjir Kritik, Program Gebyar Pendapatan Sulsel 2026 Jadi Sorotan: Hadiah Mewah vs Jalan Rusak
- Kualitas tata kelola emiten.
- Stabilitas kinerja keuangan.
- Transparansi informasi.
Pentingnya Asset Liability Matching (ALM)
Ibrahim menekankan bahwa fondasi utama asuransi dan Dapen adalah Asset Liability Matching (ALM). Fokus utamanya bukan sekadar mengejar cuan atau imbal hasil tinggi, melainkan memastikan kecukupan aset untuk membayar kewajiban pemegang polis.
Baca Juga: 24 Hari Hilang di Bukit Mongkrang, Pendaki Asal Colomadu Ditemukan Meninggal di Celah Tebing
- Asuransi Umum: Cenderung konservatif karena kebutuhan likuiditas jangka pendek untuk klaim.
- Asuransi Jiwa: Memiliki ruang lebih besar di saham untuk pertumbuhan aset jangka panjang, namun tetap wajib memprioritaskan aset berimbal hasil pasti.
Dampak terhadap Permodalan (RBC)
Perlu diingat, instrumen saham memiliki faktor risiko pasar yang tinggi. Setiap kenaikan eksposur akan langsung meningkatkan kebutuhan Modal Minimum Berbasis Risiko (MMBR), yang berpotensi menekan rasio Risk Based Capital (RBC) perusahaan.
"Peningkatan batas investasi saham ini adalah instrumen kebijakan yang mensyaratkan tata kelola kuat, bukan pelonggaran disiplin. Tanpa ALM yang ketat, potensi konsentrasi risiko dapat berkembang menjadi tekanan sistemik," pungkas Ibrahim.
(**)
Artikel Terkait
IFG Corporate University Raih Akreditasi Global EFMD–CLIP
Perkuat Kepercayaan Publik, IFG Jadikan Tata Kelola Fondasi Utama Perlindungan Nasabah
IFG Targetkan Transformasi Bisnis Total di 2026: Fokus pada Digitalisasi dan Layanan Cepat Jasa Raharja
Akselerasi Digital IFG: Aplikasi One by IFG Tembus 250 Ribu Transaksi
Perkuat Ketahanan Nasional, IFG dan KUPASI Dorong Literasi Asuransi sebagai Mitigasi Risiko Bencana