Shalat Dhuha, Ini Waktu Yang Tepat Manfaat dan Berapa Jumlah Rakaat Untuk Mengerjakannya

photo author
M. Sulaeman, Fajar Nusa
- Rabu, 9 Agustus 2023 | 07:25 WIB
Dokumentasi shalat (fajarnusa.com)
Dokumentasi shalat (fajarnusa.com)

FAJARNUSA.COM Shalat Dhuha hukumnya sunnah muakkad (sangat dianjurkan). Sebab, Rasulullah senantiasa mengerjakannya dan berpesan kepada para sahabatnya untuk mengerjakan shalat Dhuha sekaligus menjadikannya sebagai wasiat.

Baca Juga: Berdayakan Koperasi Berbasis Kearifan Lokal dan Digitalisasi Modern

Wasiat yang diberikan Rasulullah kepada satu orang juga berlaku untuk seluruh umat, kecuali terdapat dalil yang menunjukkan kekhususan hukumnya bagi orang tersebut.

Shalat Dhuha adalah shalat sunnah yang dikerjakan pada pagi hari, dimulai ketika matahari mulai daik sepenggalah atau setelah terbit matahari (sekitar jam 7) sampai sebelum masuk waktu zhuhur ketika matahari belum naik pada posisi tengah-tengah. Namun lebih baik apalbila dikerjakan setelah matahari terik.

Baca Juga: Manfaat Minum Kopi Setiap Hari Bagi Kesehatan Anda

Shalat Dhuha sekurang-kurangnya terdiri dari dua rakaat. Tidak ada batasan yang pasti mengenai jumlahnya. Namun, terkadang Rasulullah mengerjakan dua rakaat, empat rakaat, delapan rakaat, bahkan lebih. Setiap dua rakaat ditutup dengan salam.

Menunaikan Shalat Dhuha selain sebagai wujud kepatuhan kepada Allah dan Rasul-Nya, juga sebagai perwujudan syukur dan takwa kepada Allah karena Allah Maha Hikmah. Apapun amal ibadah yang disyariatkan aka mengandung banyak keutamaan dan hikmah.

Baca Juga: Cara kenali dan pahami karakter seseorang

Diantara keutamaan shalat Dhuha antara lain, (1) Sholat Dhuha adalah sedekah, (2) sebagai investasi Amal Cadangan, (3) Keuntungan yang besar, (4) Dicukupi Kebutuhan Hidupnya, (5) Pahala Haji dan Umrah, (6) Diampuni semua dosanya walapun sebanyak buih di laut, (7) Istana Di Surga.

Shalat bagi Rasulullah merupakan manifestasi takwa, cinta, dan syukurnya kepada Allah. Selain itu, shalat juga berfungsi sebagai riyadhah ruhiyah (olah jiwa) yang dapat mendatangkan kenikmatan, keindahan, dan kebahagiaan.

Ibadah adalah bukti cinta seorang hamba kepada penciptanya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kecintaan ini dapat mengalahkan segalanya. Demikianlah perwujudan cinta istri Nabi Yusuf AS, Siti Zulaikha dalam ibadah dan zikirnya kepada Allah. Riwayat ini terukir dalam kitab Mukasyafatul Qulub karya Imam Al-Ghazali. ***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M. Sulaeman

Sumber: Kemenag RI

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X