FAJARNUSA - 40 tahun yang lalu, sebuah kelompok bersenjata sekutu Israel menyerang kamp pengungsi Sabra dan Shatila di ibu kota Lebanon, Beirut.
Tepat pada 16 September 1982, atau sehari yang lalu, milisi Phalange yang didukung Israel membunuh antara 2.000 dan 3.500 pengungsi Palestina dan warga sipil Lebanon di kamp Sabra dan Shatilla dalam dua hari.
Sampai saat ini pembantaian Sabra dan Shatilla dikenal sebagai salah satu pembantaian paling mengerikan yang dilakukan dalam perang saudara Lebanon.
Shatila, sebuah kamp pengungsi Palestina, dan lingkungan Sabra yang berdekatan terletak di barat daya ibu kota Lebanon, Beirut, pada waktu itu merupakan tempat bagi warga Palestina mengungsi karena terusir atau melarikan diri dari kejamnya pendudukan Israel di wilayah Palestina.
Baca Juga: Presiden Ukraina Zelenskyy Tabrakan Dengan Mobil Pribadi, Begini Kondisinya...
Para pengungsi Palestina tersebut adalah korban tragedi Nakba tahun 1948, atau “bencana” dalam bahasa Arab, orang - orang Palestina ini melarikan diri dari usaha pembersihan etnis Palestina oleh milisi Zionis ketika Israel dibentuk.
Yang malangnya para pengungsi Palestina tersebut tepat pada tanggal 16 dan 18 September 1982, para pengungsi, yang tinggal di Shatila dan Sabra, bersama dengan warga sipil Lebanon, diserang oleh milisi sayap kanan Lebanon, yang berkoordinasi dengan tentara Israel.
Selama pembantaian tersebut diprediksi korban yang meninggal antara 2000 - 3.500 orang baik dari warga sipil Lebanon maupun pengungsi Palestina.
Lantas apa yang sebenarnya terjadi? mengaapa milisi Phalange yang bersekutu dengan Israel bertindak sejauh itu?
Melansir Al-jazera, Pada bulan Juni 1982, Israel menginvasi Lebanon selama perang saudara 15 tahun di negara itu (1975-1990), dengan tujuan menghancurkan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), yang berbasis di Beirut yang kerap diidentifikasi Israel kerap meluncurkan serangan terhadap Israel dari Lebanon selatan.
Baca Juga: Mengerikan, Festival Keagamaan Hindu di India Picu Gelombang Serangan Terhadap Muslim India
pada 1 September 1982 PLO menarik diri dari Lebanon. Amerika Serikat dan pasukan multi-nasional menjamin bahwa pengungsi Palestina dan warga sipil yang tersisa akan dilindungi usai tragedi Nakba yang membuat ribuan orang Palestina mengungsi ke Lebanon kabur dari pembersihan etnis selama pendirian negara Israel.
Dua minggu kemudian, militer Israel mengepung Sabra dan Shatila dan memberikan perlindungan bagi sekutu mereka, milisi sayap kanan Lebanon yang disebut Phalange, untuk melakukan pembunuhan massal.
Phalange yang berisi milisi kristen dan di backup Israel menilai kehadiran para pengungsi Palestina yang muslim di Lebanon dapat membalik keadaan perang sodara Lebanon yang saat itu berperang karena faktor sektarianisme yang rumit dan kental.
Artikel Terkait
3 Program Prioritas Liz Truss Usai Terpilih Sebagai PM Inggris, Nomer 2 Salahkan Putin, Siap Perang nih?
Rusia Tekan Barat Pakai Energi? Liz Truss Tuduh Putin Sebagai Biang Kerok Krisis Energi dan Pangan Eropa
Ratu Elizabeth II Meninggal Operasi 'London Bridge is Down' Dijalankan, Apa Maksudnya? Begini Penjelasannya
Mengenal BBC (British Broadcasting Corporation) Corong Media Kerajaan Inggris
5 Perubahan Besar Bagi Keluarga Kerajaan Inggris Usai Mangkatnya Ratu Elizabeth II
Pangeran William dan Harry Tampil Bareng, Warga Antusias Keluarga Kerajaan Bakal Bersatu
PLTN Zaphorizhzhia Di Ukraina Diserang, Putin Dan Macron Saling Tuding
Biadab, Didepaan Masjid Upacara Hindu di India Dendangkan Lagu - Lagu Pembantaian dan Genosida Terhadap Muslim
Mengerikan, Festival Keagamaan Hindu di India Picu Gelombang Serangan Terhadap Muslim India
Presiden Ukraina Zelenskyy Tabrakan Dengan Mobil Pribadi, Begini Kondisinya...