FAJARNUSA.COM -- Dua anak dipastikan tewas dan belasan lainnya terluka dalam insiden penusukan massal di Inggris utara pada Senin siang (29/7) waktu setempat. Aksi ini terjadi pada sekolah anak kelas dansa.
Kepala Polisi Merseyside Serena Kennedy mengatakan setidaknya enam anak yang terluka berada dalam kondisi kritis. Pelaku penyerangan masuk ke lokasi kejadian dengan membawa pisau dan mulai menyerang anak-anak di kelas dansa bertema Taylor Swift tersebut.
"Kami yakin bahwa orang dewasa yang terluka masih tetap berusaha melindungi anak-anak yang diserang," ujarnya dalam konferensi pers pada Senin malam, seperti dikutip dari CNN, Selasa (30/7).
Baca Juga: Dinas PUPR Kabupaten Indramayu Hibah Buku Gambar dan Pencil Warna Untuk Perpustakaan
Kepolisian Merseyside mengatakan kejadian terungkap setelah pihak keamanan menerima laporan tentang penusukan di Southport, sebelah utara Liverpool. Layanan darurat dipanggil untuk menangani insiden besar di kota itu sekitar pukul 11.50 waktu setempat.
Seorang tersangka remaja laki-laki berusia 17 tahun ditangkap di tempat kejadian dengan barang bukti sebilah pisau. Tersangka diketahui tinggal di sebuah vila sekitar 8 kilometer dari tempat kejadian.
Pemilik bisnis lokal Colin Parry adalah salah satu orang yang menelepon polisi, mengatakan insiden di Southport seperti adegan dalam film horor. Sejumlah gadis telah ditusuk.
Baca Juga: BRI Cabang Situbondo Salurkan 50 Paket Bantuan Pendidikan kepada Ponpes Nurur Rofi Dawuhan Situbondo
Saksi mata menggambarkan anak-anak berlumuran darah berlarian dari sebuah titik kumpul di mana sebuah event yoga dan dansa bertema Taylor Swift sedang digelar di sebuah lokasi di Southport, dekat Liverpool. Event tersebut diramaikan oleh anak-anak dalam rentang usia sekitar 6-11 tahun.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer menyebut penyerangan itu sebagai aksi mengerikan dan sangat membuat shock.
Polisi Merseyside tidak menyebut peristiwa penusukan itu sebagai aksi terorisme.
Baca Juga: Hanya Dengan NISN Siswa Dapat Mengecek Pencairan Dana Bantuan PIP Kemdikbud 2024
North West Ambulance Service (NWAS) mengatakan telah mengirimkan 13 ambulans dan sumber daya khusus ke lokasi kejadian. Mereka merawat sedikitnya delapan orang dengan luka tusukan. Para korban langsung dibawa ke rumah sakit terdekat, termasuk ke rumah sakit anak.
Saksi lainnya Bare Varathan, seorang pemilik toko yang dekat dengan tempat kejadia perkara, mengatakan, bahwa dia sempat melihat sekitar tujuh hingga sepuluh anak berlarian dengan luka berdarah dari Hart Space, sebuah komunitas yang menawarkan kelas bagi ibu hamil, bayi, dan anak-anak.
"Mereka di tusuk di bagian sini, sini, sini, di mana-mana," kata Varathan, sambil menunjuk bagian leher, punggung, dan dada.
Baca Juga: Imbas Penyerangan Pusat Data Nasional Sementara Beberapa Waktu Lalu, Mahasiswa Diharap Unggah Ulang KIP Kuliah 2024
"Mereka sekitar usia 1o tahun. Satu dari mereka dalam kondisi luka serius," Varathan menambahkan.
Seorang warga sekitar lainnya bernama Ryan Carney, mengatakan, ibunya juga melihat petugas layanan darurat membawa anak-anak yang diselimuti kain berwarna merah darah. Menurut Carney, ibunya mengaku melihat luka tusukan di punggung seorang anak.
"Kejadian seperti ini tidak pernah terjadi di sini," kata Carney.
Baca Juga: Puncak Hari Jadi Cirebon ke 597, Diramaikan Penampilan Budi Doremi Ribuan Warga Padati Balai Kota Cirebon
"Kalian mendengar kasus penusukan seperti ini di kota besar, seperti Manchester, London. Ini adalah Southport yang bersinar. Begitulah warga menyebutnya. Kota yang disinari Matahari dan tempat yang menyenangkan untuk tinggal," tambah Carney.
Kasus penembakan massal dan pembunuhan dengan senjata api bisa dibilang jarang terjadi di Inggris. Namun, kejahatan dengan menggunakan pisau terjadi 40 persen dari total kasus pembunuhan pada 2023.
Terakhir kali terjadi di Inggris Raya pada 1996 adalah kasus penyerangan terhadap anak-anak. Tersangka 43 tahun bernama Thomas Hamilton menembak mati 16 anak TK dan guru di sebuah sekolah di Dunblane, Skotlandia. Karena kasus tersebut Inggris Raya membuat larangan kepemilikan privat senjata api.