bisnis

Prospek Pasar Properti Jakarta 2026: Sektor Perkantoran dan Logistik Tumbuh Solid

Jumat, 13 Februari 2026 | 06:39 WIB
CBRE Indonesia: Pasar Properti Jakarta 2026 Diprediksi Tumbuh Solid dan Stabil

FAJARNUSA.COM (JAKARTA) – Mengikuti momentum positif tahun lalu, pasar properti Jakarta diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan yang solid pada tahun 2026. Hal ini didukung oleh aktivitas korporasi yang ekspansif serta pergeseran prioritas penyewa yang semakin mengutamakan kualitas.

​Laporan prospek pasar terbaru dari CBRE Indonesia menyoroti adanya permintaan berkelanjutan di berbagai sektor, mulai dari perkantoran, industri/logistik, ritel, hingga perhotelan. Dengan pasokan baru yang terbatas, tekanan kompetitif terhadap harga sewa diperkirakan akan mulai mereda.

Ekspansi Korporasi Jadi Pendorong Utama

Baca Juga: Jaga Marwah Jurnalis, Forum Jurnalis Cirebon (FJC) Gelar Munggahan Bareng Anak Yatim

​Angela Wibawa, Managing Director CBRE Advisory Indonesia, dalam Media Briefing (11/02/2026), menyatakan optimismenya terhadap iklim properti tahun ini.

​“Kami memperkirakan permintaan dari ekspansi korporasi akan mendukung sektor perkantoran dan industri, sementara pergeseran gaya hidup perkotaan akan mendorong sektor ritel,” ujar Angela.

Ia juga menambahkan bahwa pulihnya sektor pariwisata akan menjadi katalis positif bagi tingkat okupansi hotel di Jakarta.

Baca Juga: Penjualan Mobil Listrik Indonesia Meroket 300 Persen di Awal 2026, BYD Kuasai 60 Peesen Pasar Lewat SUV Baru

Stabilitas Ekonomi Indonesia Sebagai Landasan

​Anton Sitorus, Head of Research & Consulting CBRE, memaparkan bahwa stabilitas ekonomi Indonesia menjadi pondasi kuat bagi para investor. Dengan pertumbuhan PDB rata-rata 5% selama lima tahun terakhir dan target ambisius pemerintah mencapai 6–8% pada 2029, kepercayaan investor asing maupun domestik tetap tinggi.

Sektor Perkantoran: Tren 'Flight to Quality'

Baca Juga: Geger Dugaan 'Uang Pelicin' Rp55 Miliar APBD Cirebon, LSM Ancam Demo Besar Jika Ketua DPRD Bungkam

​Sektor perkantoran, khususnya di kawasan CBD, menunjukkan performa yang impresif:

  • Okupansi CBD: Mencapai 76% pada akhir 2025.
  • Okupansi Non-CBD: Meningkat ke angka 74%.
  • Sektor Penggerak: Manufaktur, energi, teknologi, dan jasa.

​Judy Sinurat dan Albert Dwiyanto dari Office Services CBRE menekankan bahwa banyak perusahaan kini melakukan perpindahan kantor ke gedung-gedung berkualitas lebih tinggi (grade A) yang memiliki lokasi strategis.

Baca Juga: Honda PCX 160 Terbaru Rilis di IIMS 2026: Pilihan Warna Baru & Fitur Canggih, Cek Harganya

Logistik dan Industri: Efek Kendaraan Listrik (EV)

​Di sisi lain, Ivana Soesilo, Head of Industrial Services, mencatat lonjakan permintaan lahan industri akibat posisi Indonesia sebagai pusat produksi kendaraan listrik (EV) serta masifnya pertumbuhan e-commerce.

  • Penyerapan Lahan Industri: Mencapai 218 hektar pada 2025.
  • Okupansi Logistik: Sangat tinggi di angka 95%.
  • Tantangan: Pasokan yang terbatas membuat harga lahan industri dan sewa logistik tetap stabil dengan kecenderungan meningkat.

Baca Juga: Shopee Big Ramadan Sale 2026: Syifa Hadju dan El Rumi Bagikan Tips Ramadan Produktif, Ada Promo Serba Rp1!

Inovasi Ritel dan Destinasi Gaya Hidup

​Sektor ritel tidak ketinggalan dengan tingkat okupansi rata-rata di atas 85%. Mal-mal kelas atas bahkan mencapai okupansi 95% karena berhasil bertransformasi menjadi destinasi gaya hidup melalui konsep pop-up store dan zona gaya hidup khusus yang meningkatkan dwelling time pengunjung.

Halaman:

Tags

Terkini