bisnis

IHSG Melemah ke 7.894 usai Suku Bunga BI Turun, Saham Jumbo Ikut Terkoreksi

Jumat, 22 Agustus 2025 | 08:30 WIB
Ilustrasi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis, 21 Agustus 2025. (Unsplash.com/NicholasCappello)

FAJARNUSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada awal perdagangan Kamis, 21 Agustus 2025, pukul 10.00 WIB. 

IHSG turun ke level 7.894,25 setelah Bank Indonesia (BI) kembali memangkas suku bunga acuan atau BI rate.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG sempat dibuka di posisi 7.903,29. Tak lama kemudian, indeks melemah 0,62 persen ke level 7.894,25 pada pukul 09.05 WIB.

Baca Juga: Dari Pakai Baking Soda hingga Reed Diffuser, Ini Cara Simpel Usir Bau Apek di Ruangan

Di awal sesi, IHSG bergerak di rentang terendah 7.887,21 dan tertinggi 7.991,90. Sementara kapitalisasi pasar atau market cap saat pembukaan mencapai Rp14.199 triliun.

Sejumlah saham dengan nilai transaksi tinggi juga dibuka melemah. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), misalnya, langsung anjlok 15 persen pada sesi pembukaan.

Tekanan jual juga menghantam saham perbankan besar. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) terkoreksi 0,81 persen, sedangkan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) turun 0,24 persen.

Baca Juga: Menaker Sebut OTT KPK Noel Sebagai Pukulan Berat Kementerian dan Dukung Penuh Proses Hukumnya: Tak Ada Toleransi

Pada Rabu, 20 Agustus 2025, IHSG justru ditutup menguat 1,03 persen ke level 7.943,83. Artinya, penurunan pada hari ini kontras dengan tren positif yang sempat terjadi.

Sebelumnya diketahui, BI kembali memangkas BI rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,00 persen. Keputusan ini diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2025.

Pemangkasan tersebut menjadi yang keempat kalinya sepanjang tahun ini, sekaligus membawa BI rate ke level terendah sejak Oktober 2022.

Baca Juga: DJP Perkokoh Semangat Kemerdekaan Lewat Doa Bersama Lintas Agama untuk Penerimaan Negara

BI menilai langkah ini sejalan dengan proyeksi inflasi yang masih sesuai target, nilai tukar rupiah yang stabil, serta pertumbuhan kredit yang melambat. Pemangkasan suku bunga juga dipandang bisa memberi dorongan bagi pertumbuhan ekonomi.

Dari sisi teknikal, meski indikator Stochastic RSI masih menunjukkan potensi koreksi dalam jangka menengah, histogram MACD masih positif. Hal ini menandakan adanya peluang akumulasi yang bisa membawa IHSG kembali menguat.

 

Halaman:

Tags

Terkini