Sejarah Seren Taun, Sedekah Hasil Bumi dan Arti Empat Penjuru Mata Angin

photo author
M. Sulaeman, Fajar Nusa
- Sabtu, 29 Juni 2024 | 20:34 WIB
Sedekah hasil bumi dalam acara Seren Taun di Kuningan Jawa barat (Ule/FajarNusa.com)
Sedekah hasil bumi dalam acara Seren Taun di Kuningan Jawa barat (Ule/FajarNusa.com)

FAJARNUSA.COM (KUNINGAN, Jawa Barat) -- Seren taun sudah menjadi kalender tahunan dalam arti syukuran masyarakat agraris para petani. Seren tau ini biasanya di tepatkan dengan istilah rayagung merayakan keagungan.

Kota Kuningan mengadakan acara Seren Taun yang diikuti dari berbagai daerah seluruh Indonesia khususnya Jawa Barat.

Seren Taun sebagai wujud syukur masyarakat agraria atau pertanian akan hasil bumi yang didapat.

Baca Juga: Ormas DPAC MADAS Kwanyar Ingatkan Kepala Desa serta Perangkat dan PNS untuk Netral dalam Pilkada Serentak 2024

Secara garis besar, menurut Kija, Koordinator empat penjuru mata angin adalah menyerahkan tahun yang sudah terlewati, menyongsong tahun yang akan dihadapi.

"Pada dasarnya syukuran masyarakat agraris di bidang pertanian," ungkap Kija.

"Awalnya pada 200 tahun yang lalu, masyarakat semula tidak bisa menanam apapun, keturunan ini adalah yang dahulu memulai mendidik kita para petani," Kija mengkisahkan kepada FajarNusa.com pada Jum'at, (28/6/2024).

Baca Juga: Kuasa Hukum An dan Bh Duga Pernyataan Kapolsek Manggala Tidak Sesuai Fakta

"Dahulu mah dari palawija, pertanian bawang gitukan, kemudian beralih ke padi yang menjadi dasar makanan pokok sampai sekarang ini ke empat keturunan, pertama Pangeran Madrais, kedua Pangeran Pangwedar, ketiga Jatikusuma dan sekarang yang ke empat adalah Rama Anom," sambungnya menceritakan.

Seren taun ini berjalan dari tahun ke tahun, pernah berhenti karena ada pelarangan dari pemerintah daerah setempat. Tapi pelarangan itu Kija tak bisa mengungkapkan kenapa hal itu terjadi.

Saat ini, acara Seren Taun sudah di perbolehkan kembali dan di alih fungsi oleh Disbudpar Kabupaten Kuningan.

Baca Juga: Seorang Anak Bawa Kabur Mobil Expander Ibu Angkatnya di Laporkan ke Polsek Lakarsantri Polrestabes Surabaya

Acara Seren Taun ini bertujuan untuk merekatkan masyarakat yang berbeda paham atau aliran, menjadi satu seperti tata cara menumbuk padi zaman dahulu dari tidak bisa tidak tahu, menjadi bisa, menjadi tahu, terang Kija.

Acara Seren Taun ini, banyak berkumpul lapisan masyarakat berbagai kalangan.

Aat warga Desa Cigugur menambahkan, seluruh warga berkumpul di acara Seren Taun ini, karena disitulah ada nilai nilai kebersamaan, kebhinekaan, tidak memandang ras, paham agama apapun. Di Seren Taun ini bersatu semua.

Baca Juga: Kehadiran Raul Lemos Langsung Jadi Sorotan Saat Azriel Hermansyah Lamar Sarah Menzel

"Tidak ada istilah seperti bahasa sundanya aing aingan, disinilah (Cigugur) miniaturnya Indonesia," kata Aat.

Arti empat penjuru mata angin di simbolkan dengan arak arakan hasil bumi dan patung hewan yaitu:
1. Ikan, karena Cigugur dikatakan tersohor karena adanya Ikan Dewa. Ikan tersebut tidak boleh dimakan, tidak boleh diambil, karena usia ikan tersebut sudah ratusan tahun. Dikaitkan kedalam kehidupan sehari hari, ibarat kita makan harus ada lauk pauk, yaitu ikan. Sebagai filosofinya.

2. Burung Garuda
Melambangkan daripada lambang negara pancasila, melambangkan kebhinekaan.

Simbol empat penjuru mata angin
Simbol empat penjuru mata angin (Ule/FajarNusa.com)


3. Macan
Acara Seren Taun ini sebagai penggagas adalah kesundaan, macan ini dilambangkan adalah zaman Pajajaran Prabu Siliwangi.

4. Kuda
Kuda disimbolkan sebagai lambang dari Kota Kuningan, seperti pribahasa kecil kecil kuda kuningan.

Empat penjuru mata angin dalam Seren Taun ini mengikat nilai sejarah dan filosofi.

Rama Anom (tengah) saat acara puncak seren taun di gedung paseban tri panca tunggal
Rama Anom (tengah) saat acara puncak seren taun di gedung paseban tri panca tunggal (Ule/FajarNusa.com)


Ditempat terpisah, sejarah Seren Taun diceritakan Rama Anom, turun menurun sudah dari leluhur Gebang Kinatan telah melakukan syukuran Seren Taun seperti ini.

"Yang mana hakekatnya, Seren Taun itu mengucapkan rasa syukur terhadap Tuhan yang Maha Kuasa atas limpahan rahmat dan karunianya atas kenikmatan yang telah kita terima, nikmat sehat, nikmat hidup dan nikmat melihat hasil hasil karya Tuhan yang Maha Kuasa alam semesta ini manusia sewajibnya dan seharusnya mensyukuri atas nikmat yang telah diberikan kepada kita," ungkap Rama Anom.

Bentuk ungkapan rasa syukur tersebut, kami dalam penutupan akhir tahun di bulan Rayagung, menurut kalender sunda sudah turun menurun dari mulai tanggal 18 Rayagung (25 Juni) sampai 22 Rayagung (29 Juni) 2024 kami mengadakan bermacam upacara ritual.

Kegiatan menumbuk padi saat acara puncak seren taun di cigugur kuningan jawa barat
Kegiatan menumbuk padi saat acara puncak seren taun di cigugur kuningan jawa barat (Ule/FajarNusa.com)


Dimana puncaknya tanggal 22 Rayagung kami ungkapan manivestasi sebuah kenyataannya Tuhan itu Maha Agung, Maha Besar, maha segalanya.

Dari empat penjuru mata angin, masyarakat itu membawa padi, umbi umbian, buah buahan dan aneka macam masakan di sungging di atas kepala menuju gedung Paseban Tri Panca Tunggal barisan dari timur, utara, barat, selatan itu berkumpul menjadi satu di depan gedung Paseban bermakna bahwasanya Paseban itu menggambarkan wujud tubuh manusia.

Arti Seba dari kata Paseban
Seba yaitu mengadung unsur dari mana mana seperti unsur dedaunan, sayur mayur, buah buahan, umbi umbian, hewan dan lainnya yang dimakan oleh tubuh kita bisa mengandung aura negatif maka seba itu dibersihkan agar tubuh kita terhindar dari malapetaka dan sebagainya.

Baca Juga: Klarifikasi Anji Tentang Berita Perselingkuhannya Dengan Juliette Angel

Dikumpulkannya di gedung Paseban agar hasil pertanian dan olahan yang kita makan agar terhindar dari malapetaka dan bahaya.

"Amalan, mutmainah itu harus di bimbing senantiasa dalam hidup kita agar bisa meningkatkan derajat kita di dalam kehidupan untuk menjadi manusia yang sejatinya manusia," kata Rama Anom

"Dalam bahasa arabnya, Insan kamil ya kamil mukamil, sejati ning ingsunya jangan sampai wujud manusia tetapi berprilaku tidak seperti manusia," sambungnya.

Baca Juga: Kongres ke Enam Partai PAN Sekretaris Jenderal PAN Eddy Soeparno Katakan Tetapkan Kembali Zulkifli Hasan (ZulHas) sebagai Ketua Umum

Dalam acara Seren Taun, hakekat barisan arak arakan dari empat penjuru mata angin masuk ke gedung Paseban Tri Panca Tunggal agar supaya unsur tersebut tidak mempengaruhi naluri rasa dan pikir manusia.

"Dari unsur itu kita bimbing manunggaling kaula gusti, menyembah kepada Tuhan yang Maha Pencipta," ucapnya.

Acara Seren Taun in dijelaskan Rama Anom adalah acara multi agama, multi etnis, dimana berbaur dari berbagai agama yang ada, suku, dan ras, tidak tebang pilih dari anak anak hingga orang dewasa.

Baca Juga: PKL Kawasan Puncak Bogor Diratakan Oleh Pj Bupati Bogor Asmawa

"Seren Taun ini adalah milik kita bersama, harus kita lestarikan bersama sama karena budaya bisa mempersatukan berbagai elemen," pungkas Rama Anom. (Ule)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M. Sulaeman

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X