internasional

Banyak Sekolah di Tutup, Bukti Angka Kelahiran di Jepang Menurun?

Selasa, 19 September 2023 | 19:58 WIB
foto pasangan jepang (jepang-indonesia.co.id)

FAJARNUSA.COM - Seperti yang kita ketahui generasi muda di Jepang enggan untuk nikah dan punya anak. Isu kelahiran anak di Jepang kerap menjadi sorotan media internasional. Muncul juga kabar yang mengatakan sekolah-sekolah di Jepang tutup karena kekurangan murid.

Kanasugi Kenji sebagai Duta Besar Jepang untuk Indonesia, membenarkan bahwa anak muda di jepang enggan untuk menikah, meski ia menyebut istilah "penutupan" sekolah tidak tepat.

Dubes Kanasugi Kenji juga menyebut, angka kelahiran Jepang adalah 1,4 per perempuan, Lebih rendah dari Amerika Serikat (1,6), Indonesia (2,2), atau Jerman (1,5) -- berdasarkan data Bank Dunia per 2020.

Baca Juga: Timnas U-17 Indonesia Sudah Tiba di Jerman, Garuda Muda Langsung Latihan !

Menurut pandangan Dubes Kanasugi Kenji, para pemuda Jepang nyaman hidup sendiri sehingga merasa repot jika menikah dan punya anak.

"Saya tidak sepenuhnya tahu, tetapi anak-anak muda membentuk kehidupan mereka sebagai orang single. Mereka menikmati hidup mereka. Mereka merasa repot kalau punya anak, karena dengan menikah, punya anak, mereka harus mengubah keseluruhan hidup mereka," ujar Dubes Jepang Kanasugi Kenji saat acara iftar di rumah dinasnya, Jakarta, Jumat (14/4).

"Jadi mereka lebih suka tetap single dan menikmati hidupnya. Mungkin. Itu tebakan saya. Saya terlalu tua untuk mengetahui perasaan anak-anak muda," ia menambahkan.

Baca Juga: Panglima TNI Resmi Gelar Latihan Bersama Negara Asean Pertama Kali Di Batam

Dubes Kanasugi Kenji menyebut pemerintah Jepang terus berusaha agar para pemuda negaranya mau untuk menikah. Pada 2020, Kyodo News melaporkan bahwa pemerintah Jepang memang telah menawarkan skema bantuan finansial bagi orang-orang yang baru menikah.

Tentang isu sekolah, Dubes Jepang menilai kata "penutupan" kurang tepat, sebab sekolahnya sebetulnya digabung, meski jumlah sekolah Jepang memang berkurang.

"Banyak sekolah-sekolah Jepang bukannya tutup, tetapi bergabung. Dan dua sekolah bergabung jadi jadi. Jadi angka sekolah berkurang. Kami mencoba melakukan hal terbaik untuk menambah tingkat kelahiran, mendorong anak-anak muda untuk punya lebih banyak anak," ujarnya.

*

Tags

Terkini