FAJARNUSA.COM – Bisakah aku menahan telunjukku untuk tidak menudingmu kehilangan idealisme.
Bisakah aku menahan tanganku tak menepuk dada, banggakan diri paling rasional dan objektif.
Bisakah aku menahan mulutku berteriak: Kau munafik. Kau pengkhianat. Kau pelacur! Suci semuci….
Baca Juga: Peringatan Tahun Baru Islam, Warga Antusias Hadiri Acara MWC Nahdatul Ulama Plered Bersholawat
Terang sesungguhnya, idealis dan idealisme Itu perkara subjektivitas belaka. Dan, objektivitas sebenarnya dibangun dari subjektivitas-subjektivitas yang berserakan. Dikumpulkan. Diikat. Lalu dibungkus agar terlihat objektif.
Baca Juga: Pebisnis Online Strategi agar Konsumen Tetap Loyal Saat Biaya Layanan Naik
Bisakah aku ber-husnudzan dan jauh dari su’udzan. Kau tidak sedang tergelincir dari dari sebuah idealisme ke pragmatisme. Tapi kau keluar dari sebuah idealime dan masuk ke idealisme lain.
Baca Juga: Kendalikan Inflasi, Pemkab Cirebon Gelar Gerakan Pangan Murah
Politik ada urusan duniawi belaka. Dunia yang penuh canda dan gurau katanya.
Seperti Iqbal satu ketika kira-kira pernah berkata: kebenaran hakiki itu bagai sebuat tirai. Kita hanya berebut dan berkelahi pada salah satu sisi tirai saja. Ketika tirai itu benar-benar tersibak, kita tidak lagi disini. Di dunia fana ini.
Politik secukupnya, berteman selamanya!
Dilansir akun twiter @rajajuliantoni adalah Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang Indonesi dengan Nama Lengkap Raja Juli Antoni, MA., Ph.D mendapat respon dari Zulfikar Akbar @zoelfick "Di balik sengitnya medan tempur perpolitikan, masih ada yg mau melihat dgn mata persahabatan. Respek, Pak Wamen." ***