FAJARNUSA.COM (INDRAMAYU) -- BPBD Indramayu yang merupakan garis depan dalam pencegahan dan penanganan bencana di Indramayu harus pro aktif untuk melakukan sosialisasi dan edukasi penanganan bencana yang ada di Kabupaten Indramayu.
Hal ini sesuai dengan peraturan dan perundangan , Perda Indramayu no.3 tahun 2014 tentang BPBD, Perda no.3 tahun 2016 tentang Penanggulangan Bencana daerah, Peraturan Bupati no.45 tahun 2014 tentang organisasi dan tata kerja BPBD Indramayu, dan Perbub Indramayu no.17 tahun 2015 tentang Penanggulangan Bencana di Indramayu.
Upaya kesiapsiagaan bencana merupakan hal penting yang harus dilakukan untuk menghadapi bencana dan menanggulangi risiko bencana, ditambah lagi bencana sering terjadi tanpa peringatan, tak hanya itu dalam menghadapi ancaman bencana, kesiapsiagaan menjadi kunci penting untuk keselamatan.
Bertempat di aula Kecamatan Bangodua Kabupaten Indramayu Kamis (04/07/24) lalu, BPBD Indramayu melaksanakan Sosialisasi dan Edukasi Rawan bencana yang di ikuti perwakilan desa-desa yang ada di kecamatan Bangodua.
Hadir pada acara tersebut Camat Bangodua Raden Mas Wahyu Adhiwijaya, Sekertaris Dinas BPBD Asep Afandi, M.Si, Kasi Pencegahan BPBD Supriyanto,SH, RT, RW, Karangtaruna, relawan, PKK dan perwakilan aparat desa se kecamatan Bangodua.
Dalam keterangannya Sekdis BPBD Indramayu Asep Afandi menerangkan, kegiatan ini dilatar belakangi oleh pentingnya pendidikan mitigasi bencana bagi masyarakat, khususnya perangkat desa. Selama ini peristiwa bencana alam telah banyak menimbulkan banyak korban jiwa dan kerusakan insfrastruktur yang cukup parah,"terangnya.
"Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat belum memiliki kesiapan dalam menghadapi bencana alam yang sering datang secara tiba-tiba. Selain itu sosialisasi, komunikasi dan edukasi rawan bencana di Kabupaten Indramayu sangatlah penting” ujar Asep.
Kesiapsiagaan ini dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna.
Sementara itu kepala seksi Pencegahan BPBD Indramayu Supriyanto saat diminta keterangan, memaparkan “kegiatan sosialisasi dan edukasi rawan bencana yang dilaksanakan pada 10 desa diantaranya desa Anjatan, Kedungdawa, Lamarantarung, Karanggetas, Tempel, Pawudean, Arjasari, Karanglayung, dan desa Kertajaya dalam waktu 10 hari dengan jumlah peserta masing-masing desa 450 orang” tutur Supriyanto.
"Sosialisasi dan edukasi ini disampaikan, upaya untuk mengurangi dampak bencana karena setiap orang harus mengambil peran dalam kegiatan pengurangan resiko bencana, dan semua stakeholder harus bisa meningkatkan dalam pentingnya pengurangan resiko bencana,"pungkasnya.(Herman)